Latest news

Insya Allah kita akan mengadakan Reuni Akbar di tahun 2009. Jangan sampai ketinggalan acara yg akan HEBOH itu dg mendaftar pada : Dora 085214812345, Etty 081321298399, Wiwied 081227371071 dan Faiz 081231179505.

Perspektif

Selasa, 14 April 2009

Seorang teman menulis di face book, mengatakan bahwa dia menyukai tulisan saya. Semalam saya tidak bisa tidur karena teringat satu hal dan merasa harus memberikan sesuatu kepadanya. Tulisan ini berkembang sendiri karena spontanitasnya.

Persepsi. Segala sesuatu tergantung dari cara kita memandangnya. Jika seorang pria dengan wajah pas-pasan mendapatkan pasangan seorang yang sangat cantik, maka kita akan mengatakan “anugerah untuk si pria, bencana untuk si wanita”. Dari sisi pandang berbeda, didapat hal yang berbeda. Anugerah dan bencana, secara kosa kata adalah berlawanan. Hal yang sama dapat berarti berbeda, tergantung pada cara kita memandangnya.

Kejadian di tempat kerja misalnya. Rekan kerja yang tidak berprestasi, kemampuan kerja minim tapi pendekatan ke atasan sangat baik (penjilat maksudnya), maka dia yang naik jabatan. Kita yang merasa lebih baik, menilai hal ini tidak adil. “Seharusnya aku yang dapat promosi”. Dari sisi pandang seperti ini, hal itu memang terasa tidak adil. Tetapi kita bisa memandangnya dengan cara lain. Kita tidak diberi kenaikan jabatan karena dianggap tidak siap untuk itu. Beban pikiran maupun pola hidup bisa sangat berubah. Atau kita dapat melihatnya dari sudut yang sama sekali berbeda. Kita tidak dipilih untuk jabatan itu, tetapi sedang disiapkan untuk menerima tanggung jawab posisi yang jauh lebih penting atau tepatnya “lebih sesuai”.

Kita berharap mendapat kekayaan yang besar. Proyek yang sudah di depan mata, lepas begitu saja. Kita bisa melihatnya sebagai bencana. “Ah, sayang. Kesempatan emas menjadi makmur, hilang begitu saja”. Mungkin kita dianggap belum memiliki kemampuan untuk mengelola pemberian materi sebesar itu. Atau kita bisa memandangnya sebagai bentuk “penyelamatan”, kita dihindarkan untuk menjadi orang sombong, suka foya-foya dan sebagainya. Rezeki sedang ditunda, untuk memberikan cukup waktu bagi kita untuk membentuk diri, menyiapkan pemahaman konsekuensi yang menyertai sebuah kelebihan.

Itoek dengan anaknya yang autis. Kita memiliki kecenderungan menggolongkan, mengklasifikasi, mengelompokkan. Manusia lebih melihat autis sebagai bentuk “cacat” yang lebih berkonotasi negatip. Hal ini lahir sebagai konsekuensi sempitnya pikiran dan kurangnya pemahaman tentang hakekat sesuatu. Saya lebih suka memandang anak autis sebagai pribadi dengan keistimewaan khusus. Hakekatnya mereka adalah manusia, dengan bakat khusus, konsentrasi tinggi dan ketekunan yang luar biasa. Mayoritas kita yang dianggap “normal”, tidak memiliki hal itu.

Itoek bisa menganggap anaknya sebagai bencana. Mungkin, Itoek sering mengalami masa-masa dimana air mata selalu mengiringi pertanyaan “Aku harus bagaimana?”. Tetapi mengamati upaya yang telah terceritakan di milis ini, saya yakin, Itoek lebih menganggap anaknya sebagai anugerah.

Itoek bisa saja menganggap hal ini sebagai cobaan yang sangat berat. “Why me?”. Buntutnya adalah protes ketidak adilan Yang Esa. Tetapi saya lebih suka memandangnya sebagai bentuk kepercayaan dari yang Maha Kuasa terhadap Itoek.  Seorang Itoek dinilai memiliki kesabaran, ketekunan dan dedikasi untuk menerima “titipan” itu. Orang lain mungkin tidak berdaya jika menerima tugas dan tanggung jawab seperti ini. Intinya, Tuhan telah memilih hambanya yang terbaik. Tidak ada kebetulan, semua memiliki maksud dan tujuan. Kita hanyalah "agent-Nya".

Dari sudut pandang pribadi, saya tidak akan memiliki cukup stamina untuk menghadapi hal seperti itu.. Salut untuk Itoek. Menurut penggolongan manusia, saya memiliki empat jempol, tetapi dua jempol kaki sangat tidak pantas untuk diacungkan. Mohon maaf Itoek, saya hanya dapat mengacungkan dua jempol. Saya adalah pribadi yang sangat jarang sekali berdoa, untuk sementara ini. Tetapi untuk yang satu ini saya membuat pengecualian. Semoga yang Itoek inginkan untuk anaknya, menjadi kenyataan. Doa ini tidak memakai kata “akan menjadi”, karena itu hanya berarti penundaan. Amin.

Gatut,

Cause life is a lesson, you learn it when you do - Limp Bizkit

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.41 0 komentar  

Sekilas tentang Batik

Batik adl. salah satu seni budaya bangsa kita. Mulai dahulu kala, nenek moyang kita selalu menggunakan batik. Ada yang dipakai sbg pakaian saja & ada yang dipakai sbg. simbol kekuasaan. Pemakaian batik dijaman kerajaan disertai dg. pemakaian jenis2 keris. Seperti keris ronce melati, pamengkang jagad dlsb.

Hampir dari daerah2 di pulau jawa mempunyai ciri khas batik. Pekalongan dengan batik sekar jagad-nya, cirebon dengan mega-mendungnya, rembang dengan batik lasem-nya, solo dengan batik sogan-nya, jogja dengan batik putihan, madura dengan batik genthongan.

Bahan dari batik ada yang terbuat dari mori, shantung, katun primair, primisima, sutra, ATBM (alat Tenun bukan mesin), Thay silk, Paris, krep, organdi, obin, serat nanas, serat kayu. semua bahan2 tersebut banyak tersedia di bumi indonesia.

Jenis2 batik :

1. Batik tulis adl. batik yang ditulis dengan tangan membutuhkan waktu 1 sd 3bln pembuatannya;

2. Batik kombinasi adl. batik yang dibuat antara tulis dan ditambah dengan cap;

3. Batik Cap adl. batik yang dibuat dengan di cap dg. cetakan2 tertentu;

4. Batik Print adl. batik yang dibuat dengan mesin.

Batik solo terkenal dg batik sogan. Yang artinya batik yang berwarna coklat tanah (nature) & cenderung gelap. Di jaman sekarang semua daerah sudah bisa membuat batik warna sogan, tapi yang asli solo tidak bisa dikalahkan. Karena pembatik solo terkenal 'magis' dan berpuasa sebelum membatik. tapi sayang, solo tidak punya seni lain selain sogan.

Batik pekalongan yang terkenal sekarjagad artinya dalam 1 kain batik terdapat banyak jenis2 gbr batik. Kemudian berkembang menjadi 'beras-kutah' dimana ce-ceknya diisi oleh titik2 sebesar beras. Pekalongan lebih menonjolkan market. Batik pekalongan sudah sampai pada pasar Tong2 di Belanda karena orang belanda lebih menyukai batik yang bergambar bunga.

Batik cirebonan terkenal dengan 'mega-mendung', lokcan, siti inggil. batik cirebonan selalu bercerita tentang kekuasaan. Mega mendung adl. awan yang bercerita manusia harus mempunya cita2 setinggi langit. Siti inggil.... siti=tanah .......inggil=atas artinya kerajaan. Lokcan adl kolaborasi antara cina dan cirebon dan di batiknya selalu bergambarkan burung hong. konon, Nyimas Gandasari legendaris cirebon pernah menghadiahi batik kepada raja Cina.

Batik Madura........mayoritas batik madura adl. Tulis. Kalau ada Batik cap bermotip madura itu bukan asli madura tapi produk pekalongan yang meniru motip madura asli.. Jenis batik madura :

1. Torcetor

2.  Ramok

3.  Raman

4. Beddung

5. Genthongan

ad.1 Torcetor adl. batik tulis yang pewarnaannya hanya 2x celup biasanya bergambar bunga menjalar, burung.

ad.2,3.4  ramok, Raman dan Beddung adl. batik tulis yang pewarnaannya 3x sd 4x celup, gambarnya bercerita tentang isi laut.. kerang, cumi, bunga, sungai ce-ceknya lebih rumit harganya lebih mahal dari tor-cetor.

ad.5 Genthongan adl. batik tulis sempurna dibuat selama 6bln direbus didalam genthong/kuali dengan pewarnaan alami, hijau dari dedaunan, merah dari daun jati, coklat dari akar-akaran. harganya bisa mencapai jutaan. Keistimewaan dari Genthongan apabila dicuci ada warna2 tertentu yang keluar diair tapi warna itu akan terlihat tajam setelah kain batik tsb kering. Itulah genthongan disebut dengan batik istimewa.

Dari semua batik yang ada di bumi indonesia hanya batik madura yang paling etnik. karena wanita madura membuat batik2 tsb awalnya bukan untuk bisnis tapi membatik adl. meluapkan kerinduan kepada suami2 mereka yang sedang berlayar untuk mencari ikan. Makanya batik madura selalu bercerita tentang burung, bunga, sungai, isi laut seperti kerang, cumi, bunga laut dll...

Demikian sekilas tentang Batik yang sudah aku pelajari dari th.2002 sd sekarang.

"Batikku"

ITC Depok UG-B150

by Dora collection

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.41 0 komentar  

Life is so short

*Sebuah Renungan tentang keSUKSESan*

Kelvin Hui adalah seorang Web Publishing Businessman (Founder dari ambatch.com dan SEO Master), yang berhasil mendapatkan kontrak dengan Yahoo! senilai 20 juta dollar hanya untuk mempromosikan Yahoo! Di Hongkong, Korea, dan Jepang selama tiga tahun!

Yang menarik, manusia ini justru sangat-sangat sederhana dalam berpakaian, tutur katanya sangat halus namun penuh kebijaksanaan yang membuat pemikiran saya berubah 180 derajat tentang keSUKSESan. SUKSES itu sederhana, SUKSES tidak ada hubungannya dengan menjadi kaya raya, SUKSES itu tidak serumit/serahasia seperti kata Robert Kiyosaki/Tung Desem Waringin, SUKSES itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah ANDA! Karena keSUKSESan terbesar ada pada diri Anda sendiri...

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi satu ovum, itu adalah SUKSES pertama Anda!
Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh yang sempurna tanpa cacat, itulah keSUKSESan Anda yang kedua...
Ketika Anda ke sekolah, bahkan bisa menikmati studi S1 di saat setiap menit ada 10 siswa yang drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah SUKSES Anda yang ketiga...
Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan di bilangan segitiga emas, di saat 46 juta orang lainnya menjadi pengangguran, itulah keSUKSESan Anda yang keempat...
Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada tiga juta orang yang mati kelaparan setiap bulannya, itulah keSUKSESan Anda yang kelima...
SUKSES terjadi setiap hari, dan Anda tidak pernah menyadarinya...

Saya sangat tersentuh ketika menonton film "Click!" yang dibintangi oleh Adam Sandler, "family comes first," begitu kata-kata terakhirnya kepada anaknya sebelum ia meninggal...Saking sibuknya Adam Sandler dalam mengejar keSUKSESan, ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak-istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri pemakaman ayahnya, keluarganya berantakan, istrinya yang cantik menceraikannya, dan anaknya tidak mengenal siapa ayahnya...

SUKSES selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa terus-menerus menjadi best seller dengan membuat keSUKSESan menjadi suatu hal yang rumit dan sukar diperoleh...
SUKSES tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex, pensiun muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald Trump, resort mewah di Karibia, dll.
Tapi buat saya pribadi yang bisa hidup dengan sangat berkecukupan, saya rasa SUKSES memiliki arti yang berbeda...
SUKSES adalah mencintai dan bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja...
SUKSES sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan, SUKSES sejati adalah menikmati dan bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda. Pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya. Pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu Anda harus bersiap lagi menghadapi episode yang baru.
SUKSES sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak munafik, tidak menipu, apalagi scam, saleh, dan selalu rendah hati.
SUKSES itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit. SUKSES sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami adalah seperti roda pedati. Ketika masih mahasiswa, hidup saya begitu nelangsa cuma mampu makan nasi warteg satu kali sehari dengan menu nasi setengah + sayur gratis + tempe goreng. Tetapi ternyata nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika...
Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah dan terpal, hujan kehujanan, panas kepanasan. Tetapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang...

Saya dulu pulang-pergi ke sekolah jalan kaki sejauh 40 km, memakai baju yang lusuh, tas yang kotor, dan alat tulis seadanya. Datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman, tetapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy, sama-sama sampai di tujuan ternyata...Saya pernah diundang bos saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya. Ada speaker untuk karaoke, ada tape untuk mendengarkan musik, ada home theater... Dia bilang harga speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja harganya 400 juta rupiah, saya disuruh mendengarkan waktu beliau memutar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas dan petikan bass-nya bisa terdengar jelas, tapi kok setengah jam di situ, saya bosan juga. Sama nikmatnya dengan mendengarkan musik di komputer sendiri, speakernya cuma seharga 100 ribu rupiah...

Pernahkah Anda menyadari?
Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat tukar. Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda. Ya, Anda mungkin harus bekerja siang dan malam untuk membayar KPR selama 15 tahun atau membeli mobil/motor secara kredit selama tiga tahun. Namun itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda sendiri, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam hari kepada penawar yang tertinggi, untuk mendapatkan uang agar bisa membeli makanan, membayar pulsa telepon dll...

Aset terbesar Anda bukanlah rumah atau mobil Anda, tetapi diri Anda sendiri. Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat daripada orang bodoh, karena semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...
Itu sebabnya mengapa harga dua jam Robert Kiyosaki untuk berbicara di suatu seminar = 200 juta rupiah, atau harga 2 jam seminar Tung Desem Waringin mencapai 100 juta...
Itu sebabnya mengapa Nike berani membayar Tiger Woods dan Michael Jordan sebesar 200 juta dollar hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk menjadi mahal bukan karena merk-nya, namun karena produk tersebut dipakai oleh siapa...
Itu sebabnya bola basket bekas milik Michael Jordan bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk yang sama bila dijual harganya justru turun...

Hidup ini lucu, kita seperti mengejar fatamorgana. Bila dilihat dari jauh, mungkin kita melihat air di kejauhan, namun ketika kita kejar dengan segenap tenaga dan akhirnya sampai di tujuan, yang kita lihat hanya pantulan sinar matahari saja...

Lucu, bila setelah membaca tulisan di atas, Anda masih mengejar fatamorgana tersebut ketimbang menghabiskan waktu Anda yang sangat berharga untuk sungkem kepada orangtua yang begitu mencintai Anda, memeluk hangat istri Anda, mengatakan "I love you" kepada orang-orang yang Anda cintai: orang tua, istri, anak, dan sahabat-sahabat Anda.

Lakukanlah selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat, Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam, karena LIFE IS SO SHORT. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda, entah itu bermain bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit Anda, berkebun, bermain catur, atau berkaraoke...

Enjoy your life, because life is so short...

 

Sumber : Milist TDA

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.39 0 komentar  

Beware of dog

Rumah sebagai tempat tinggal mengalami pergesaran fungsi dari catatan sejarah ke sejarah. Unsur keindahan arsitektur, segi aset properti dan dinamika prestisius pergaulan setidaknya menjadi faktor yang mengalihkan fungsi rumah. Tetapi fungsi utama sebagai tempat aman untuk ditinggali (atau setidaknya untuk istirahat, tidur) masih menjadi fungsi utama.

Jaman dulu, manusia menjadikan gua, pohon dan kondisi alam lainnya sebagai area perlindungan dari bahaya, binatang buas dan cuaca. Jaman beralih, pemukiman dibangun, sampai muncul kerajaan-kerajaan dengan benteng-bentengnya. Fungsi masih tetap sama, melindungi diri dari bahaya, dari musuh apapun jenisnya. Pos jaga, prajurit, ronda menjadi perlengkapan pagar tembok tinggi menjulang.

Di kehidupan modern ini, kita juga masih membutuhkan perlindungan yang sama. Tetapi musuhnya bukan harimau atau singa, tentara kerajaan lain atau pemberontak. Tetapi kita berlindung diri dari maling, perampok, garong dan kawan-kawannya. Bentuk perlindungan ini dimanifestasikan dalam bentuk bangunan-bangunan rumah dan sistem penjagaannya.

Rumah dilengkapi dengan pagar keliling, berupa tembok, pagar kayu, bambu atau besi. Jika cukup beruntung dianugerahi kekayaan, nyewa satpam. Atau pelihara anjing, sehingga di pintu masuk dipasang tulisan ”Awas anjing galak”. Atau pelihara angsa, yang jika di sekitarnya ada orang maka angsa akan mulai mengadakan konsernya.. Semua dilakukan dengan penyesuaian keadaan masing-masing pemilik rumah atau seberapa takut terhadap apa yang dikawatirkan.

Lebih jauh lagi, bentuk perlindungan dilakukan dengan memasang kunci-kunci pintu dan jendela. Kunci, gerendel, selot, palang pintu bahkan naruh panci atau barang lain agar jika pintu atau jendela dibuka maka akan gedombrangan, suara ribut yang akan bikin maling lari. Teralis atau jeruji dipasang dijendela-jendela, yang bisa dipesan di tukang-tukang las pinggir jalan.

Teralis pun secara visual mengalami pergeseran. Dulu teralis bentuknya kaku, lurus-lurus. Semakin lama unsur seni nggabung di sektor teralis. Jadilah teralis dengan ornamen-ornamen indah, cat warna-warni atau hiasan bunga-bunga. Pengamanan rangkap, sudah ada jendela masih dikasih teralis.

Pagar, kunci dan teralis yang memiliki fungsi pengaman ini setidaknya menunjukkan tingkat ketakutan penghuni rumahnya. Semakin banyak, semakin tinggi, semakin besar, semakin kokoh, semakin ......., semakin ......., maka pemilik rumah semakin takut akan sesuatu. Semakin kawatir terhadap apapun yang akan mengganggu rumahnya, dia sendiri atau keluarganya. Paranoid ? Mungkin.

Membicarakan teralis, jadi teringat satu poster bertahun-tahun lalu. Digambarkan seorang laki-laki dengan wajah memelas, memegang teralis di jendela rumahnya. Di bagian bawah poster diberi komentar ”Seharusnya penjahat yang berada di balik terali, bukan anda”

Saat sedang jalan dengan teman-teman, saya lewat di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang tinggi (hampir 2 meter). Di atas pagar besi masih diberi tambahan teralis dengan ujung-ujung runcing, dari besi bulat yang biasa dipakai untuk tulang cor bangunan. Seperti barikade tombak pada masa-masa perang jaman pertengahan. Pagar yang rapat, teralis runcing yang padat, extra very high security system.

Seorang teman berkomentar bahwa rumah tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya tidak bersahabat. Rumah yang tidak ramah. Yang mau bertamu atau sekedar mampir apalagi nagih utang pasti segan, atau kesulitan. Padahal jika terjadi kebakaran misalnya maka pemiliki rumah akan sulit untuk menyelamatkan dirinya. Wah berarti berlindung dari bahaya dari luar rumah, justru bahaya bisa timbul dari dalam.

Tapi yang jauh lebih menarik adalah komentar teman yang satu lagi. Kira-kira begini komentarnya ”Semakin kokoh pagarnya maka yang ada di dalamnya semakin buas. Coba deh lihat di kebun binatang”.

Gatut,

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.20 0 komentar  

RASULULLAH SAW : "JANGAN BERLEBIHAN MENYANJUNGKU.....!"

Selasa, 17 Maret 2009

" Sehari di Kediaman Rasulullah "

Oleh : Abdul Malik bin Muhammad bin Abdur Rahman Al-Qasim

Tawadhu' Rasulullah

Rasulullah adalah seorang yang sangat elok akhlaknya dan sangat agung wibawanya. Akhlak beliau adalah Al-Qur'an sebagaimana yang dituturkan 'Aisyah x, ia berkata: "Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim).

Beliau juga pernah bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)
Salah satu bentuk ketawadhu'an Rasulullah adalah; beliau tidak suka dipuji dan disanjung secara berlebihan. Dari Umar bin Kaththab Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah pernah bersabda:
"Janganlah kamu sanjung aku (secara berlebihan) sebagaimana kaum Nasrani menyanjung 'Isa bin Maryam alaihisSalam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan: hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Abu Daud)

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: "Ada beberapa orang memanggil Rasulullah sambil berkata: "Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami." Rasulullah segera menyanggah seraya berkata:
"Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak sudi kamu angkat di atas kedudukan yang dianugrahkan Allah kepadaku." (HR. An-Nasai)

Sebagian orang ada yang menyanjung Rasulullah secara berlebihan. Sampai-sampai ia meyakini bahwa Rasulullah mengetahui ilmu ghaib atau meyakini bahwa beliau memiliki hak untuk memberikan manfaat dan menurunkan mudharat, bahwa beliau dapat mengabulkan segala permintaan dan menyembuhkan segala penyakit. Padahal Allah telah menyanggah keyakinan seperti itu. Allah berfirman:
"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik keman-fa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan." (Al-Araf: 188)

Demikianlah akhlak Nabi yang mulia, seorang utusan Allah, sebaik-baik manusia di muka bumi dan seutama-utama makhluk di kolong langit. Beliau senan-tiasa tunduk patuh dan bertaubat kepada Rabbnya. Beliau tidak menyukai kesombongan, bahkan beliau adalah pemimpin kaum yang tawadhu'
dan penghulu kaum yang tunduk patuh kepada Rabb. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah. Walaupun begitu, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau. karena mereka mengetahui bahwa beliau tidak menyukai cara seperti itu." (HR. Ahmad)

Layangkanlah pandanganmu kepada Nabi umat ini. Saksikan sikap tawadhu' beliau yang sangat mengagumkan dan keelokan akhlak yang langka ditemukan. Beliau tetap bersikap tawadhu' terhadap seorang wanita miskin. Beliau luangkan waktu untuk melayaninya, padahal waktu beliau
penuh dengan amal ibadah!

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: "Suatu hari seorang wanita datang menemui Rasulullah ia mengadu kepada beliau sambil berkata: "Wahai Rasulullah, saya membutuhkan sesuatu dari Anda." Rasulullah berkata kepadanya: "Pilihlah di jalan mana yang kamu kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, niscaya aku akan menemuimu (melayani keperluan-mu)." (HR. Abu Daud).

Beliau hadir dengan segenap jiwa yang terpuji lagi elok. Menjulang tinggi ke tempat yang terpuji dengannya. Bila disingkap kesturi dari cincinnya kepada jagad raya niscaya setiap orang akan merasakan harumnya baik yang di gunung maupun di lembah. Sungguh, beliau adalah pemimpin segenap ahli tawadhu' baik dalam ilmu ataupun amal.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah beliau bersabda:
"Andaikata aku diundang makan paha atau kaki binatang, niscaya aku kabulkan undangannya. Andaikata kepadaku hanya dihadiahkan kaki atau paha binatang, tentu akan aku terima hadiah itu." (HR. Al-Bukhari)

Semoga hadits Rasulullah tadi menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi orang-orang yang takabbur dari sifat sombong dan angkuh.

Abdullah bin Mas'ud Radhiallaahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:
"Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji zarrah kesombongan." (HR. Muslim)

Sifat sombong merupakan jalan menuju Neraka, wal 'iyaadzubillah, meskipun hanya sebesar biji zarrah. Cobalah lihat hukuman yang ditimpakan terhadap orang yang sombong dan angkuh cara berjalannya. Betapa besar kemurkaan dan kemarahan yang diturunkan Allah Ta'ala atasnya. Dan betapa pedih siksa yang dideritanya.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah beliau bersabda:
"Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaiannya, takjub dengan kehebatan dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, berjalan dengan angkuh. Namun tiba-tiba Allah Ta'ala menenggelamkannya. Dia terus terbenam ke dasar bumi sampai hari Kiamat." (Muttafaq 'alaih)

 

Kiriman dari jeng Leni

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 14.32 0 komentar  

SURAT BUAT MAMA

Rabu, 18 Februari 2009

Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.
Kan , mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.

Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya.
Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh.
Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma.
Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja.

Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan.
Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan?

Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya?
Nanti mama ngga bisa kerja ya?
Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya?

Kalo gitu susah ya, Ma?
Mbak ngga diganti ngga apa-apa tapi mama bilangin dong jangan galak sama aku.

Ma,bisa ngga hari Kamis sore mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin aku siapa?

Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong.
Kalo mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya.

Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, Ma.

Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, Ma.

Temen-temen tuh ngga pernah liat mama.
Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan mereka jadinya udah lupa tampangnya mama.
Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh.
Uangnya mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh.

Uangnya mama tabung aja. Kalo uang mama udah banyak, kan mama ngga usah kerja lagi.
Nah, itu baru sip namanya.

Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama mama kali ya?

Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk.
I love you Ma..

------------ --------- ---------

Tahu kah anda...saat kita tua dan pensiun...atau saat kita meninggal...perusahaan memiliki ratusan, bahkan ribuan orang untuk menggantikan kita.

Tapi sadarkan kita...tidak ada satu pun yang bisa menggantikan kita di hati, pikiran dan ingatan anak kita tercinta yang ada di rumah...

SUDAHKAH KITA MEMIKIRKANNYA?

 

Kiriman dari jeng Itoek

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 08.43 0 komentar  

Syukur

Senin, 16 Februari 2009

Jaman sudah serba modern, jamannya teknologi dan informasi. Kita menerima sekian banyak hal yang dapat dipelajari dari dunia lain. Misalnya bersyukur. Informasi ini dikemas sedemikian rupa sehingga logis dan menarik. Tetapi yang mungkin dilupakan adalah nenek moyang kita sendiri sebenarnya telah lama mengerti ilmu ini. Ilmu tua yang secara kemasan tidak  menarik dan secara logika seringkali tidak masuk akal.

Bersyukur seolah-olah menjadi aktivitas sistematik yang sulit dilakukan. Kegiatan ini sepertinya baru bisa dilakukan jika ada panduan teknis bagaimana caranya. Dan hal ini menjadi komoditi komersial yang dibungkus cover-cover berwarna dan dengan bahasa-bahasa bombastis. Sehingga muncul pertanyaan, lha wong cuma bersyukur kok harus dipelajai sedemikian rumitnya? Lalu pentingnya untuk apa?

Syukur biasanya diekspresikan dengan ucapan-ucapan. Sudah dijanjikan bahwa siapa yang mau bersyukur maka akan ditambah nikmatnya. Implikasinya adalah masalah kualitas bukan kuantitas. Kalau biasa minum segelas kopi di warung pinggir jalan dengan aroma selokan di sekitarnya, tetapi masih mau bersyukur maka bukan berarti besok akan minum dua gelas atau lebih di warung yang sama. Atau lusa akan dapat kesempatan nyruput kopi jenis lain di Starbuck. Tetapi jika mau bersyukur maka segelas kopi yang sama di warung yang sama baunya akan terasa jauuuuh lebih nikmat, serasa di Starbuck.

Memiliki seorang istri jauh dari cantik tetapi mau bersyukur. Bukan berarti besok jumlah istrinya ditambahi (asyik) atau istrinya menjadi lebih cantik. Ah yang bener saja, kalau hancur ya hancur sajalah. Tetapi mungkin besok istri akan tampak sedikit lebih cantik jika telaten melihatnya. Atau tambah baik, tambah perhatian dan tambahan-tambahan lain yang akan terasa jauuuh lebih menyenangkan.

Sebenarnya, apakah syukur itu? Syukur itu mau menerima semua pemberian apa adanya, berterima kasih terhadap apapun yang diterima. Tidak ada komplain, tidak ada keluhan. Pasrah, sumeleh, nrimo ing pandum. Nah, inilah ilmu tua tersebut. Setidaknya di etnis Jawa, hal ini bukan hal baru. Etnis ini sangat mengerti dan sangat lekat dengan kegiatan bersyukur. Bahkan mereka memiliki ritual khas yaitu syukuran atau karena asimilasi agamis menjadi tasyakuran. Syukur katanya berteman dekat dengan untung, slamet, sabar, legowo, mulyo dan lain-lain. Makanya istilah-istilah ini banyak dipakai untuk nama orang. Kita tidak pernah mendengar ada orang (Jawa) diberi nama “ruwet, ciloko, apes atau kata-kata buruk lainnya”.

Contoh bagaimana leluhur menyikapi suatu kecelakaan motor. Motornya rusak parah. Tapi masih untung orangnya tidak apa-apa. Orangnya lecet-lecet tapi masih untung nggak patah tulang.  Orangnya patah tulang tangan masih slamet nggak patah tulang leher. Sudah patah leher masih syukur bisa diselamatkan dan nggak sampai mati. Nah, khan. Bahkan pada kondisi terburuk pun, nenek moyang kita tahu bagaimana harus bersikap. Bersyukur sampai pada kondisi terparah yang dialami.

Makanya, teman-teman yang sekarang bermukim atau terdampar di daerah Ngayogyokarto Hadiningrat dan sekitarnya seharusnya lebih bisa menerapkan konsep ini karena mereka berada dekat dengan “sumbernya”.Yang menikah dengan warga asli bahkan bisa dikatakan “sehari-hari bahkan sudah tidur dengan sumbernya”. Seharusnya lebih cepat ketularan mudah bersyukur karena proses perkawinan ini telah menjadikan banyaknya acara “tukar-menukar” atau sharing banyak hal. Ya sharing hormon, enzim dan cara pandang.

Bersyukur seharusnya mudah. Tinggal mau menerima segala sesuatu apa adanya. Dapat rejeki sedikit disyukuri. Istri wajahnya pas-pasan, meskipun sedikit mual, ya “dinikmati saja”. Harus lega dan lapang dada. Lega itu perasaan dan perasaan itu ada di hati (kalbu).  Makanya diistilahkan lapang dada karena hati dalam hal ini secara anatomi dilokasikan di daerah dada. Coba kalau di area lain, mungkin istilahnya menjadi lapang kaki atau bahkan lapang pantat. Hati yang harus dikelola, dimanajemeni.

Jika masih terasa sulit menerima apa adanya atau susah untuk sekedar bersyukur mungkin bisa dicoba dengan mengurangi keluhan, bahkan bisa sampai tahapan nol keluhan. “Yah, cuma dapat duit segini” atau “aduh, macet”. Masih untung kan dikasih duit atau mobil nggak mogok di kemacetan. Mengeluh artinya tidak sabar, masih “kemrungsung” (wis ojo diplesetno maneh), masih tidak ikhlas. Mengeluh berarti tidak mau mensyukuri. Masih saja “kurang”. Lalu bagaimana akan “ditambah” kalau tidak mau bersyukur. Kalau tidak mengeluh pun masih susah, introspeksilah, istighfar yang banyak.

Begitulah, membahas “syukur” bisa panjang lebar. Tapi saya mau bikin segelas kopi dan diminum sambil disyukuri. Siapa tahu, besok ada yang ngajak nongkrong di Starbuck.

Gatut,

I told you everything loud and clear - Linkin Park

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 14.01 0 komentar  

Wanita karir

Perubahan jaman, tuntutan ekonomi atau karena jasa seorang Kartini (meskipun versi sejarah lain mungkin berbeda), menjadikan wanita (istri) yang bekerja menjadi hal yang lumrah. Tetapi polemik seringkali muncul karena masalah kodrati dan tanggung jawab mengelola urusan rumah tangga sehari-hari. Sementara, karir seringkali tidak bisa berjalan bersamaan dengan kesuksesan rumah tangga. Salah satu harus mengalah dan menjadi korban.

Tetapi, seorang istri yang bekerja juga berhubungan dengan tingginya tingkat pendidikan dan tanggung jawab moral untuk mengaplikasikan ilmunya. Belum lagi alasan sederhana, daripada nggangur yang berakhir dengan pembentukan klub gosip. Apapun alasannya, yang jelas jaman sekarang, wanita bekerja. Titik. Yang justru menarik adalah sikap para pria (suami).

Reaksi negatif suami dapat berupa perasaan tidak “nyaman” jika istrinya bekerja. Hal ini mungkin disebabkan karena :

1. Pergaulan istri menjadi lebih luas.

Dalam hal ini akan terjadi kekawatiran karena isteri bekerja berarti “pemandangan”  yang lebih luas. Kontrol terhadap pergaulan atau posisi dianggap sulit sehingga menimbulkan perasaan curiga dan posesif.

2. Kemungkinan posisi kerja istri menjadi lebih baik.

Jabatan yang lebih tinggi atau karir istri yang lebih pesat akan melukai “harga diri” suami. Ketidakseimbangan akan terjadi. Si suami cuma kopral tapi istrinya sudah jenderal. Penghasilan istri juga menjadi lebih tinggi, sehingga runtuhlah posisi suami sebagai “pemberi nafkah lahir”.

3. Kemungkinan terbengkalainya urusan rumah tangga.

Misal pengasuhan anak menjadi terganggu sehingga muncul ketakutan anak-anak akan menjadi “anak pembantu, anak kaleng susu, atau anak sapi”

4. Kurangnya waktu untuk suami.

Bagaimanapun seorang suami butuh teman bicara, orang terdekat untuk berbagi cerita dan kesombongan.. Istri yang bekerja dianggap tidak dapat memberikan cukup waktu. Bahkan jika mau “private meeting” mungkin perlu janjian dulu, atau mengajukan surat permohonan. Ma, besok malam kita ..........ya?

Ketidak nyamanan suami akan berbuntut pada bentuk-bentuk pengekangan karena perasaan tidak aman seringkali ditunjukkan dalam bentuk “penyerangan”. Padahal jika dilihat point-point di atas, sebenarnya masalahnya ada pada siapa?. Lebih parah lagi jika sikap yang diambil adalah bentuk “kejahatan verbal”.

Maka dari itu, perlu penyeimbangan, perlu kompromi. Seorang istri bisa saja bekerja paruh waktu atau jenis pekerjaan yang waktunya fleksibel. Memang akan ada persyaratan, “Kau boleh bekerja, asal ..... tetapi hal ini masih lebih baik daripada pengekangan atau reaksi lain yang berlebihan. Misalnya istrinya sudah berpenghasilan, jadi suami merasa tidak perlu lagi memberikan “uang belanja”. Embargo ekonomi ini dimaksudkan agar istri mengalami “kesulitan finansial” sehingga berbalik kembali ke kodratinya. Percayalah, hal seperti ini ada dan terjadi. Kehidupan suami istri akan menjadi pertempuran yang melelahkan.

Status istri yang tidak bekerja (ibu rumah tangga), menjadi perdebatan berabad-abad sampai akhirnya diambil kesimpulan bahwa ibu rumah tangga adalah “karir tersulit di dunia”. Mayoritas suami merasa lebih “aman” jika istrinya berstatus seperti ini. Padahal karir tersulit ini bukan aktivitas mudah dan seharusnya memerlukan kerja tim. 

Istri yang bekerja pun, melelahkan dan butuh energi ekstra. Misalnya, istri yang jualan rujak “siang ngulek, malam diulek. Yang jadi guru “siang ngajar, malam dihajar”. Yang jadi dokter “siang nyuntik, malam disuntik”. Yang jadi supir “siang mengendarai, malam ...........”. Teruskan sendiri deh.

Terlepas dari segala sesuatunya, hal ini mungkin hanya sebuah perspektif dari satu sisi. Sisi yang mungkin disebut orang sebagai feminis. Juga tidak bisa digeneralisir. Bagaimanapun suatu hal harus dipandang dari banyak sudut agar apa yang diamati menjadi jelas dan lengkap.

Gatut,

I did'nt mean to hurt you - Marshall Matthew

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 12.56 0 komentar  

Kesimbangan suami istri

Salah satu hukum yang berlaku di kehidupan adalah hukum kesimbangan. Burung terbang membentangkan sayapnya berdasarkan keseimbangan. Bumi berputar pada poros mayanya berdasarkan kesimbangan. Bahkan seluruh ciptaan-Nya yang diberi istilah alam semesta berjalan dengan hukum kesimbangan.

Hukum keseimbangan didasari pada semua komponen yang bekerja sebagaimana mestinya. Misal jika sebuah mobil, roda depan berputar sementara roda belakang berhenti maka kesimbangan tidak tercapai. Atau contoh ekstrem yang ditakuti laki-laki dan berdampak pada wanita, masalah impotensi. Karena “satu komponen” tidak berfungsi maka keseimbangan tidak tercapai. Kasim, pelayan yang dikebiri akhirnya memiliki penyimpangan kehidupan seksual dan mempunyai ambisi kekuasaan yang berlebihan. Nggak imbang.

Demikian juga dengan kehidupan suami istri.. Keseimbangan sangat diperlukan. Kalau salah satu jauh lebih tinggi dari yang lain, mesti orang bilang “wah butuh dingklik”. Keseimbangan bisa dalam bentuk :

1. Pendidikan. Jika salah satu memiliki gelar S1 maka yang lain sebaiknya juga demikian, atau setidaknya hanya setingkat di bawahnya. Biar bisa nyambung. Jika yang satu ngomong masalah kebijakan harga BBM, maka akan jadi nggak seimbang jika yang lain berpikir masalah kompor di dapur. Makanya sampai ada persyaratan, istri lulusan Akabri minimal harus sarjana, dan masih banyak contoh lain.

2. Status sosial. Jika seorang jadi pimpinan maka pendampingnya harus bisa mengimbangi, setidaknya bisa berperilaku layaknya seorang pendamping pimpinan. Kalau seseorang mendatangi suatu acara resmi dengan pakaian necis, maka nggak pada tempatnya jika pasangannya pakai sandal jepit.

3. Pengetahuan. Setidaknya kalau ngobrol biar bisa klop. Coba bayangkan jika kita sudah ngomong panjang lebar, pasangan cuma buka mulut, “dlongop” dan berkata “hah?”. Atau pada masalah mendidik anak, benar-benar jadi maslaah jika yang satu pakai metode masa kini sementara yang lain masih sambil bawa sapu lidi.

4. Hobi, sifat dan masih banyak lagi.

Makanya para leluhur mengatakan kalau cari jodoh harus dilihat bibit, bobot dan bebetnya. Sepertinya hal ini disalah pahami sebagai bentuk pemilihan berdasarkan materi semata, padahal hal ini menjadi konsep yang tinggi dalam seleksi. Pasangan dianggap “jodoh” jika ada kemiripan di wajah. Ini adalah sebuah bahasa simbolik nenek moyang. Setidaknya harus memiliki banyak kesamaan. Makanya kalau “bubaran” ada ungkapan “we have nothing in common”.

Kita memang tidak bisa berharap agar setiap pasangan memiliki semua persamaan yang ada. Tetapi perbedaan yang disadari sekalipun bisa memicu terjadinya masalah. Jika pasangan terlalu pendiam meskipun yang lain sangat menyadari hal itu, hal ini akan menjadi sebuah kerawanan karena dapat memicu yang lain untuk mencari “lawan bicara yang seimbang” di dunia luar. Sementara “lawan bicara yang seimbang” adalah nominator “lawan tanding” untuk babak-babak selanjutnya.

Komunikasi itu dua arah (mestinya begitu kan, Etik). Setidaknya, jika terdapat sebuah perbedaan maka satu sama lain harus mendekat, agar kesenjangan tidak terlalu lebar lagi. Kalau yang satu bersikukuh pada posisinya maka tinggal tunggu waktu terjadinya proses “melarikan diri”.

Proses “mendekatkan diri” pada suatu perbedaan dapat dilakukan dengan toleransi. Misal yang satu suka mendengarkan musik yang keras. Dia harus mau mengurangi volume karena pasangannya tidak suka suara ribut. Tetapi yang lain harus mulai menolerir “yah, kalau suara segitu, nggak apa-apa lah”.

Proses penting yang lain adalah komunikasi langsung, berbicara satu sama lain. Ngobrol antar pasangan menjadi hal penting meski terlihat sepele. Sex memang vital, tapi itu kan cuma butuh beberapa menit (memang ada yang sampai jam-jaman, berhari-hari?). Sisa waktu sekian banyak dalam sehari kan kebanyakan digunakan untuk ngomong. Komunikasi.

Bagaimana kesimbangan anda dengan pasangan? Dicek lagi. Ambil timbangan badan dan meteran.

Gatut,

Andai engkau jadi bunga .... (siapa ya yang menyanyikan?)

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 11.54 0 komentar  

4 Skenario

SKENARIO


Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangka n kaki.

Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya
kepada kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,"
kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung
memberikannya kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.

Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone
kita sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa
terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang
yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap
ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia
mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak
memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba
bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan
handphone itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.

Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua
bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada
orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.

Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat
mengembalikan handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone
kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan
handphone tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang
diberikan oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario
ketiga).


Moral of the story

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan
ada orang yang menemukannya.


Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun
dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah
itu baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.


Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.


Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita
menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita
tersebut selama itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling
besar
.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus,
tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan
banyak, kita berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.

Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum
sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat
itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang
mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari
kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone
kita kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang
yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada
kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai
handphone yang kita miliki.

Kesimpulan
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah
hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
bersyukur?
Sebaiknya tidak.
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu
masih ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah
lenyap dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

God bless you all.

 

Dikutip dari internet.

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.15 0 komentar  

Kunci-kunci rezeki

Kamis, 29 Januari 2009

Berikut ini adalah petunjuk kunci rezeki..

1.Istighfar

2.Tawakal (Lafal Tawakal..contoh: La Hawla Wala Kuwwata Illaa Billah)

3.Perbanyak Syukur

4.Menegakan sholat dan sabar

5.Melaksanakan Shalat sunnah dhuha

6.Melaksanakan Shalat sunnah hajat

(Siapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada manusia hendaknya dia berwudhu dgn sempurna dan hendaklah dia sholat dua raka'at san mengagungkan Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi SAW .HR Tirmidzi& Nasai)

7.Melaksanakan Shalat sunnah istikharah

8.Melaksankan Shalat sunnah tahajud

9.Sedekah / Infaq dengan harta terbaik

(Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. QS Al Baqoroh:261)

10.Taqwa (Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu

(QS: Ath.Thalaq 2-3)

--------------------

Dikutip dari Ust. Yusuf Mansyur di Facebook

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 08.15 0 komentar  

Kembali Ke Al-Qur'an

Selasa, 27 Januari 2009

Assalamu’alaikum wr wb,

Sehat itu mahal harganya, apabila tubuh kita ini sehat maka kehidupan kita disadari atau tidak insya Allah senantiasa merasa tenang, senang, lapang dan beraktifitas dengan maksimal. Akan tetapi sebaliknya bila tubuh kita tidak sehat dapat dipastikan kegiatan akan terhambat, tidak bersemangat, mudah sekali emosi atau tersinggung sehingga hari-hari akan kita lalui dengan suram.

Seperti yang kita tahu khususnya orang kita sebagai muslim sering mendengar bahwa “Al-Qur’an adalah penyembuh segala penyakit” dan “Tidak akan berubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau merubahnya”.

Berbagai cara digali, dikelola dan diklaim berasal dari Al-Qur’an untuk mengupayakan kesembuhan penyakit. Mulai dari membaca satu atau beberapa ayat hingga sekian puluh, ratus bahkan ribuan kali; menuliskan ayat diatas selembar kertas lalu dibakar, abunya dimasukkan kedalam air dan diminum; hingga doa-doa khusus yang dibaca agar penyakit bisa berpindah ketubuh hewan.

Belum lagi yang berikhtiar harus ke -maaf- dukun, melakukan ritual-ritual khusus mohon kesembuhan, pergi kedokter mulai dari dokter umum hingga yang sudah bergelar professor, meminum obat2an hingga operasi sampai keluar negeri dengan biaya yang selangit.Pertanyaannya adalah apakah semua itu benar? Apakah semua itu pasti berhasil?

Wallahualam pada kenyataannya banyak yang berakhir di ritual-ritual sesat atau berakhir di meja operasi, naudzubillahimindzalik………

Semua adalah ikhtiar, semua adalah usaha agar kita menjadi sembuh dan sehat asal tidak bertentangan dengan ajaran agama insya Allah hal itu sah-sah saja. Tapi sebenarnya tahukah kita bahwa segala penyakit itu datangnya dari diri kita? Bukan berasal virus, kuman bakteri, nyamuk, mutasi sel dan sebagainya. Memang ketika kita sakit ketika diteliti ada yang namanya virus, kuman, bakteri yang merajalela didalam tubuh kita tapi itu bukanlah sebab itu hanya akibat !!

Ya…. semua yang diklaim sebagai sebab sakit sebetulnya adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, tingkahlaku kita sehari-hari yang kurang terpuji dihadapan Allah SWT. Dimana perilaku yang kurang terpuji tersebut (baca: akhlak yang kurang baik) menjadikan malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkannya di hadapan Allah SWT, dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin juga sudah berbelas bahkan berpuluh tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan suatu musibah berupa penyakit sebagai pengingat kita umatNya agar segera kembali kejalanNya.Hal ini mungkin luput dari perhatian kita semua tapi hal itu sudah terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah berabad-abad lalu tercipta dan sudah dijamin keabsahannya dan kebenarannya serta tak terbantahkan hingga akhir jaman bahkan Allah SWT sendiri yang menjamin.

Coba kita renungkan ayat-ayat berikut, mari kita baca satu-persatu dengan pelan, teliti dan arif.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. QS: As-Syuura 42 :30-31

Nah…….sudah jelas disini bahwa apapun musibah itu yang menimpa kita adalah awalnya karena perbuatan kita sendiri, karena kesalahan-kesalahan kita sendiri, karena dosa-dosa kita sendiri, astaghfirullah……….

Apakah memang benar seperti itu hanya karena dosa dan kesalahan kita saja dan bukan seperti apa yang sudah kita yakini selama ini bahwa penyakit datangnya dari virus, kuman bakteri, pemanasan global, lapizan ozon dan sederet alasan ilmiah lain????Jawabannya adalah benar!!!

Mengapa terlihat sederhana sekali?? Mengapa hanya karena dosa dan kesalahan kita lalu tiba-tiba kita bisa menderita suatu penyakit bahkan hingga yang parah sekalipun??

Sebenarnya tidak sesederhana itu, pada ayat diatas Allah sudah menerangkan bahwa dosa dan kesalahan kita banyak sekali diampuni olehNya, karena kita sendiripun tidak akan sadar bahkan mungkin tidak bisa menghitung dosa kita setiap harinya. Dosa dan kesalahan itu kita kerjakan terus menerus dari hari kehari, bulan ke bulan bahkan hingga berpuluh tahun barulah Allah akan menurunkan suatu musibah dalam hal ini penyakit semata-mata hanya sebagai hukuman, sebagai peringatan, sebagai sentilan, sebagai jeweran bagi kita agar segera sadar bahwa kita memang banyak salah dan dosa agar kita segera mau kembali ke jalan Allah (…..dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah).

Sudah jelas disini disebutkan kata-kata “pelindung dan penolong’ berarti kalau kita mau selamat dari musibah, kalau kita mau sembuh dari penyakit maka kita harus kembali kepada pelindung dan penolong kita yaitu Allah SWT.

Hal ini juga akan diperjelas lagi oleh Allah SWT melalui firmanNya yang lain yang berbunyi:

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS: An-Nissa 4 :111

Semoga ini bisa menjadi bahan renungan buat kita semua dan kami khususnya dan bisa bermanfaat bagi diri kita pribadi dan orang lain (bila kita mau menyampaikannya), juga bagi keluarga kita.

Semoga dengan sekelumit bahasan ini bisa membantu kita semua agar bersegera kembali, bersegera meminta ampunan dan perlindungan Allah SWT. Dan jika ada kebenaran yang tertuang di artikel ini semata-mata itu hanyalah karena Rahmat Allah SWT dan jika ada kesalahan yang tertuang semata-mata dikarenakan kekhilafan kami sebagai manusia yang penuh salah dan dosa.

Wassalam

 

Kiriman dari den Bagus, kutipan dari http://akhlakmuliacenter.com

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 15.34 0 komentar  

Selamat pagi...

Walau Senin tdk begitu cerah, mari kita awali dengan Doa yang Indah...

Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku. Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.

Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.

Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Allah menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Allah menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.

Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal. 

Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.

Allah menjawab.., akhirnya kau mengerti. HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya.

 

Kiriman dari jeng Sesi.

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 13.43 0 komentar  

Cemburu

Dalam kehidupan berpasangan (menikah), rasa cemburu merupakan suatu bentuk kewajaran yang tidak bisa dihindari. Karena bagaimanapun, di luar sana masih banyak “pemandangan” yang menyenangkan. Manusiawi dan wajar. Tetapi hal ini tidak lagi manusiawi dan menjadi tidak wajar jika dilakukan secara berlebihan.

Tiap orang bereaksi secara berbeda terhadap hal ini. Secara umum dikatakan wanita lebih ekspresif dalam pengungkapannya. Bisa dimengerti karena perasaan menjadi hal yang dominan. Perasaan ini muncul sebagai bentuk tindakan kewaspadaan, kecurigaan dan reaksi dari pembacaan “tanda-tanda” di sekitar. Tindakan yang mungkin dilakukan :

1. Kontrol. Biasanya dilakukan dengan kontrol terhadap posisi dan kondisi pasangan. Sehingga ada jadual seperti di salah satu iklan komersial “Dimana ? Lagi ngapain ? Sama siapa?”. Padahal jika “kecurigaan” ini tidak berdasar maka yang dikontrol menjadi risi di hadapan teman-temannya. Eh, harus lapor komandan.

2. Pembatasan ruang gerak. Dilakukan dengan berbagai cara, misal dengan membatasi uang saku, asal cukup pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Biar nggak bisa untuk sewa losmen atau hotel (ups!). Padahal, si pasangan akan menjadi bersiasat. Simpan uang lebih di bawah jok, kotak alat, bahkan jadi rajin nabung.

3. Pengeledahan. Lihat hp-nya ada sms mencurigakan nggak, lihat dompetnya, bau bajunya. Padahal semua sms terkait sudah dihapus, dompet sudah disterilkan dan bau baju sudah dinetralisir.

4. Macem-macem deh pokoknya.

Kontrol, pembatasan atau tindakan apapun umumnya berujung pada pengekangan gerak. Hewan peliharaan jika dijerat tali yang pendek akan berontak. Jika dibiarkan lepas maka dia akan lari. Mending dilepas saja, dengan diberi pagar secukupnya agar merasakan cukup kebebasan. Pengekangan berlebihan nanti akan berhadapan dengan Naif “posesif”.

Tindakan-tindakan seperti ini cuma akan menjadi bentuk penyiksaan diri. Yang menjadi dasar adalah ketidak mauan “berbagi”. Cinta, kasih sayang diharapkan didapat utuh 100%. Kawatirnya, jika berbagi jadi separuhnya. Padahal, cinta dan kasih sayang merupakan produk yang tidak akan kering sumbernya. Kalau mencintai, mengasihi atau menyayangi seseorang di masa lalu, rasa itu akan tetap ada, akan muncul lagi, tinggal menunggu pemicunya.

Selingkuh pada dasarnya adalah bentuk kecurangan, dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu kalau pengin dengan “yang lain” mending ketahuan saja, jadi sudah nggak bisa dibilang selingkuh (he 3x).. Belum lagi ada perselingkuhan bentuk lain, misal selingkuh dengan pekerjaan, dengan mancing, dengan file atau hal-hal lain yang nggak punya jenis kelamin.

Jadi biar saja, karena jika kemauan sudah kuat maka berbagai siasat dan akal akan dilakukan. Daripada menyiksa diri, mending direlakan. Kalau toh “peliharaan” itu lepas maka yang perlu dilakukan adalah menyatakan bahwa “yang rugi dia, bukan saya. Kalau sampai pulang, nggak akan saya kasih makan”. Simple.

Tentang saya, ah kayaknya nggak usah tahu deh.

Gatut,

Mungkin aku patut..membenci dia - Tere

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 13.39 0 komentar  

Poligami

Kata yang mengundang senyum manis para pria dan senyum masam para wanita. Tapi toh sejarah ke sejarah banyak mencatat kisahnya. Kaisar, raja, bangsawan, tuan tanah dll sering identik dengan pola seperti ini. Istana, harem, keputren atau apapun istilahnya. Bahkan ada cerita seorang kepala suku dengan 40 pengawal pribadi laki-laki yang semuanya adalah anak sulungnya. Wuih, betul-betul pasukan khusus!

Biar bagaimanapun, poligami merupakan topik menarik. Simak sapaan akrab teman-teman yang lama nggak ketemu. “Istrinya sudah berapa?”. Atau jika di suatu forum diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri maka biasanya “Nama saya X, istri baru satu”. Bagi laki-laki kayaknya hal ini menjadi cita-cita yang digantung setinggi langit.

Dari banyak kejadian dan peristiwa, sepertinya penyebab umum laki-laki melakukan poligami adalah sebagai berikut :

1. Memberikan “perlindungan” bagi yang membutuhkan, misal yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad.

2. Keberuntungan dalam mencari nafkah. Biasanya hal ini memicu keinginan untuk membuka “kantor cabang” dengan tetap mempertahankan “kantor pusat”.

3. Ketidak hadiran anak-laki-laki. Biasanya istri yang hanya “memberi”anak-anak perempuan akan diduakan dalam upaya membuka “pabrik”baru. Padahal alasan seperti ini, lemah jika ditinjau dari sisi medis. Secara genetis, laki-laki adalah pembawa sifat (kromosom XY), jadi yang menentukan jenis bibitnya. Wanita lebih berfungsi sebagai “kebun bibit” untuk menyemaikan., sehingga hanya bisa pasrah menerima apaun jenis bibitnya. So, kalau ada yang hanya punya anak perempuan, maka ketidak hadiran anak laki-laki bukanlah kesalahan istri. Ungkapan “kamu nggak bisa ngasih aku anak laki-laki” adalah satu ungkapan bodoh. Toh, untuk apa terperangkap dengan keinginan ini, jika nggak punya kerajaan untuk diwariskan, tidak punya gelar untuk diturunkan atau punya nama besar yang bisa digariskan. Toh, pada hakekatnya itu juga nggak penting. Cukup disadari bahwa, mungkin kita hanya dipercaya untuk dititipi anak perempuan. Atau anggap saja anak-anak perempuan merupakan “rem” bagi kelakukan bapaknya (he 3x).

Note : Halo Sisil dengan 3 anak perempuan. Seorang yang cukup alim pernah mengatakan bahwa jika bisa menjaga 3 anak perempuan tetap suci sampai pernikahannya, maka tiket surga sudah di tangan. Nah khan, ketidak hadiran anak laki-laki bisa disyukuri, setidaknya tidak perlu inden atau antri tiket, sudah punya free pass-nya.

4. Kemauan (hak) laki-laki. Karena merasa sudah diperintahkan untuk mengawini 2, 3, 4 atau bahan ada yang menafsirkannya sebagai jumlahnya.

5. Menghindari “jajan”. Karena membutuhkan “penyaluran” maka dianggap memerlukan “saluran-saluran” baru. Sehingga jika yang satu mampet, yang lain masih bisa dialiri. Agar higienitas dan keabsahan tetap terjaga maka harus dilakukan secara yuridis formal. Nah, lo bahasanya.

6. Kemampuan laki-laki (maaf) di atas ranjang, sifat, kepribadian dan yang sejenis.. No comment.

Apapun alasan yang tersedia di atas, ada satu teori yang menarik. Poligami awalnya merupakan konsep untuk “membagi cinta”. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecintaan yang terlalu berlebihan pada satu orang sehingga dianggap menduakan Yang Tunggal. Sehingga, seorang istri yang merelakan suaminya meniti jalan “pembagian cinta” akan mendapatkan nilai yang tinggi, karena memang berat untuk dilakukan. Ya?

Kodrati atau hanya sekedar fakta memang begitulah adanya. Jumlah wanita masih jauh lebih banyak, sehingga “jatah” untuk laki-laki masih terbuka lebar. Poliandri nggak boleh, di pelajaran SMA dulu katanya karena akan susah menentukan siapa bapaknya. Tapi dengan kemajuan teknologi DNA, alasan ini menjadi gugur. Kayaknya alasan kodrat lebih bisa diterima.

Tentang saya sendiri, ijin sejak awal sudah diberikan. Tapi nggak pernah saya pakai, soalnya satu aja nggak habis-habis. He 3x

 

Gatut,

Cinta ini memang untuk dirimu ... dan untuk dirinya - Pinkan Mambo

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 12.45 0 komentar  

KISAH MARTABAK SPECIAL

Di sebuah komplek perumahan PNS tinggallah empat orang anak, sebut saja namanya Lalas Simalas, Eep Episien, Ran Aturan, dan Aam Amtenar.

Suatu hari, Ibu-ibu mereka sepakat untuk makan martabak. Karena itu setiap ibu menyuruh anaknya beli martabak dan membekali mereka masing-masing dengan uang Rp. 50.000,-.

Lalas dari awal sebenarnya tidak begitu selera dengan martabak. Dia lebih suka KFC atau McDi. Tapi karena didesak-desak ibunya, ketika sudah cukup malam akhirnya dia keluar juga, namun sayangnya semua penjual martabak sudah kehabisan. Akhirnya dia pulang dan mengembalikan uang Rp. 45.000. Dia hanya pakai Rp. 5000 untuk sekali naik ojeg pp.

Eep sudah tahu martabak special yang sangat enak di warung dekat pasar. Harganya Rp. 25.000. Ongkos ojeg ke sana pulang pergi Rp. 5000,- Eep memutuskan naik sepeda, beli martabak special, kemudian menyerahkan martabak special itu ke ibunya beserta uang kembalian Rp. 25.000,-

Ran Aturan tahu martabak special harganya cuma Rp. 25.000. Tapi daripada uangnya sisa banyak, dia gunakan sekalian untuk beli bakso dan es campur kesukaannya di warung sebelah martabak, sambil nunggu martabaknya jadi. Dia hanya minta agar bonnya disatukan dengan martabaknya. Pulang ke ibunya, dia serahkan martabak special dan uang kembalian Rp. 5000,- Katanya harga martabaknya Rp. 40.000. Kemudian di dapur dia berbagi bakso + es campurnya dengan adiknya.

Aam sebenarnya juga sudah tahu warung martabak special itu. Namun dia perlu pergi beberapa kali. Yang pertama katanya buat survei untuk membandingkan berbagai jenis martabak yang ada di pasar. Pulang laporan dulu. Lalu pergi lagi untuk memastikan spesifikasi dan harganya. Pulang laporan lagi. Baru ketiga kalinya dia pergi untuk membeli martabak itu. Kali ini ia minta ditemani adiknya. Dia bagian beli, adiknya bagian yang membawa. Masing-masing sewa ojeg sendiri. Total dia perlu sewa ojeg empat kali pp. Ketika dia pulang ke ibunya, dia hanya menyerahkan martabak biasa yang Rp. 10.000-an. Tidak ada uang kembalian karena tiap kali naik ojeg katanya habis Rp. 10.000.

Keempat anak itu tidak tahu, kalau ibu-ibu mereka sering ketemu dalam arisan. Jadi ibu-ibu itu tahu berapa harga martabak special atau tarif ojeg yang riel. Apa komentar ibu-ibu mereka?

Ibunya Lalas (bernada kesal): Anakku ini jika sudah punya prinsip, susah. Bakatnya jadi demonstran.

Ibunya Eep: Anakku gak bakat jadi birokrat, jadi PNS-pun sepertinya susah. Ntah mau jadi apa dia ?

Ibunya Ran: Anakku berbakat jadi birokrat. Dapat meraih target dan masih untung lagi.

Ibunya Aam: Oh Anakku lebih berbakat jadi birokrat. Daya serap anggarannya 100%!

Tiga puluh tahun kemudian:

Menteri Keuangan mengeluhkan daya serap APBN Kabupaten Anu yang bupatinya adalah Lalas. Sudah November, ada proyek infrastruktur di sana yang belum juga dimulai. Konon karena kemauan bupati yang aktivis suatu parpol ini berseberangan dengan DPRD yang didominasi parpol lain.

Eep jadi pengusaha sukses. Dia sempat menjadi salah satu pembayar pajak terbesar. Meskipun krisis ekonomi melanda, perusahaan Eep tetap bertahan karena efisien. Ketika ada Pilkada, Eep diminta maju oleh banyak orang sebagai calon independen, dan terpilih. Akhirnya Eep dikenal orang sebagai Bupati yang gigih melakukan reformasi birokrasi. Pemerintahannya bergaya enterpreneur, pelayanannya prima dan index pembangunan manusia di daerahnya meningkat pesat.

Ran juga menjadi bupati di suatu daerah, tetapi sepertinya index pembangunan manusia selama pemerintahannya masih seperti tiga puluh tahun yang lalu. Yang berubah cuma rumah Ran yang kini tampak megah, mobilnya yang mewah dan dan anak-anaknya yang bisa kuliah di Luar Negeri.

Aam jadi bupati juga, setelah sebelumnya lama jadi birokrat. Tetapi kemudian ia berurusan dengan KPK, karena selama jadi birokrat biasa memarkup anggaran, seakan-akan seisi dunia tutup mata.

Kiriman cak Imam, dikutip dr milis sebelah.

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 12.23 0 komentar  

AKU MAU MAMA KEMBALI

Jumat, 23 Januari 2009

(Sebuah kisah teladan dari negeri China)

Untuk siapapun yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari ortu kuncinya satu memaafkan, sehingga kedamaian ada pada hidup kita, jaman dulu sdh biasa ortu bertindak seperti itu, banyak faktor, salah satunya kemiskinan dan pendidikan yg rendah.

Semoga tulisan dibawah ini membawa kita semua, terutama yg mengalami hal-hal buruk, setelah membaca e-mail ini ada damai dalam hidup kita, Amin.

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da.

Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa.

Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.

Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China.

Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa.

Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia.

Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras.

Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.

Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat.

Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia.

Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini.

Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini.

Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya.

Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil.

Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui.

Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya.

Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.

Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya.

Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih.

Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini.

Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli.

Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya.

Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri.

Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa.

Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da.

Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian.

Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya.

Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali.

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, "Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja.

Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!"

Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa.

MC pun berkata lagi kepadanya, "Sebut saja, mereka bisa membantumu"

Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, "Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!" demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, sayapun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya.

Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya.

Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya.

Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini.

Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia.

Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya...di tiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya.

Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan.... bangkitlah!

Karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.

(Dituliskan oleh (Cicilia-China) di Kompas.COM pada Kolom Kita 22 Juli 2006)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 14.00 0 komentar  

JANJI

(a touching story from India)

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran,

"berapa lama lagi kamu baca Koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan air matanya mengalir.

Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun dia sangat tidak suka makan curd rice ini.

Ibu dan istriku masih kuno mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata,

"Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "boleh ayah.... akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu2 sejenak... "...akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".

Sindu tanya sekali lagi, "betul ayah?"

"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu menjawab, "jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu.

Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada Hari Minggu.

Istriku spontan berkata, "permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!"

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami."

Sindu dengan menangis berkata, "ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan ayah sendiri? Bukankah ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "janji kita harus ditepati."

Secara serentak istri dan ibuku berkata, "apakah aku sudah gila?"

"Tidak," jawabku, "kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."

"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya

"bulan lalu Harish tidak masuk sekolah,karena chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.

Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi.

Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish.

Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku.

Dan tidak terasa air mataku meleleh.

Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

(Author Unknown)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 10.49 0 komentar  

KITA PUNYA HARAPAN......

Tulisan singkat dari Prof. Yohanes Surya,

Beberapa kesan dari Olimpiade Fisika Dunia ke 37 Singapore 2006 - Jayalah Indonesia.

Berikut ini sedikit cerita yang berkesan dari hasil IPHO 2006, Singapore.

1. Waktu upacara pembagian medali, dutabesar kita duduk di samping para dutabesar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb.

Waktu honorable mention disebutkan, ternyata tidak ada siswa Indonesia.

Dubes-dubes bertanya pada dubes kita (kalau diterjemahkan) "kok nggak ada siswa Indonesia".

Dubes kita tersenyum saja.

Kemudian setelah itu dipanggil satu persatu peraih medali perunggu.

Ada yang maju dari filipina, thailand, kazakhtan dsb.

Lagi-lagi dubes negara sahabat bertanya "kok nggak ada siswa Indonesia?"

Kembali dubes kita tersenyum.

Dubes kita menyalami dubes yang siswanya dapat medali perunggu.

Kemudian ketika medali perak disebut, muncul seorang anak kecil (SMPI Athirah Makasar) dengan peci dengan mengibarkan bendera kecil, dan namanya diumumkan Muhammad Firmansyah Kasim.. dari Indonesia...

Saat itu dubes negara sahabat kelihatan bingung, mungkin mereka berpikir "nggak salah nih...".

Ketika mereka sadar, mereka langsung mengucapkan selamat pada dubes kita.

Tidak lama kemudian dipanggil mereka yang dapat medali emas.

Saat itu dubes negara sahabat kaget luarbiasa, 4 anak Indonesia maju ke panggung berpeci hitam dengan jas hitam, gagah sekali.

Satu persatu maju sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih.

Mengesankan dan mengharukan.

Semua dubes langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata bahwa Indonesia hebat.

Tidak stop sampai disitu. ketika diumumkan "the champion of the International physics olympiadeXXXVII is....... Jonathan Pradhana Mailoa" (SMUK BPK Penabur 1 Jakarta).

Semua orang Indonesia bersorak.

Bulu kuduk merinding....

Semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema cukup lama... Standing Ovation....

Hampir semua orang Indonesia yang hadir dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun.

Air mata kebahagiaan, air mata keharuan.... Air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar....

Segala rasa capai dan lelah langsung hilang seketika... sangat mengharukan....

2. Selesai upacara, semua orang menyalami.

Orang Kazakhtan memeluk erat-erat sambil berkata "wonderful job..."

Orang Malaysia menyalami berkata "You did a great job..."

Orang Taiwan bilang: "Now is your turn..."

Orang filipina: "amazing..."

Orang Israel "excellent work..."

Orang Portugal: "portugalis great in soccer but has to learn physics from Indonesia"

Orang Nigeria: "could you come to Nigeria to train our students too?"

Orang Australia: "great...."

Orang belanda: "you did it!!!"

Orang Rusia mengacungkan kedua jempolnya..

Orang Iran memeluk sambil berkata "great wonderful..."

86 negara mengucapkan selamat...

Suasananya sangat mengharukan... saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata.....

3. Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras.

Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut:

"Echo of Indonesian Victory has reached Europe!

Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!

The future looks bright....

Marc Deschamps."

Ya benar kata Prof. Deschamps, kita punya harapan....

(Prof. Yohanes Surya)

BONUS :

Jenius adalah satu persen ilham

  Dan sembilan puluh sembilan persen keringat

(Thomas Alva Edison)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 10.44 0 komentar