Latest news
Perspektif
Selasa, 14 April 2009
Seorang teman menulis di face book, mengatakan bahwa dia menyukai tulisan saya. Semalam saya tidak bisa tidur karena teringat satu hal dan merasa harus memberikan sesuatu kepadanya. Tulisan ini berkembang sendiri karena spontanitasnya.
Persepsi. Segala sesuatu tergantung dari cara kita memandangnya. Jika seorang pria dengan wajah pas-pasan mendapatkan pasangan seorang yang sangat cantik, maka kita akan mengatakan “anugerah untuk si pria, bencana untuk si wanita”. Dari sisi pandang berbeda, didapat hal yang berbeda. Anugerah dan bencana, secara kosa kata adalah berlawanan. Hal yang sama dapat berarti berbeda, tergantung pada cara kita memandangnya.
Kejadian di tempat kerja misalnya. Rekan kerja yang tidak berprestasi, kemampuan kerja minim tapi pendekatan ke atasan sangat baik (penjilat maksudnya), maka dia yang naik jabatan. Kita yang merasa lebih baik, menilai hal ini tidak adil. “Seharusnya aku yang dapat promosi”. Dari sisi pandang seperti ini, hal itu memang terasa tidak adil. Tetapi kita bisa memandangnya dengan cara lain. Kita tidak diberi kenaikan jabatan karena dianggap tidak siap untuk itu. Beban pikiran maupun pola hidup bisa sangat berubah. Atau kita dapat melihatnya dari sudut yang sama sekali berbeda. Kita tidak dipilih untuk jabatan itu, tetapi sedang disiapkan untuk menerima tanggung jawab posisi yang jauh lebih penting atau tepatnya “lebih sesuai”.
Kita berharap mendapat kekayaan yang besar. Proyek yang sudah di depan mata, lepas begitu saja. Kita bisa melihatnya sebagai bencana. “Ah, sayang. Kesempatan emas menjadi makmur, hilang begitu saja”. Mungkin kita dianggap belum memiliki kemampuan untuk mengelola pemberian materi sebesar itu. Atau kita bisa memandangnya sebagai bentuk “penyelamatan”, kita dihindarkan untuk menjadi orang sombong, suka foya-foya dan sebagainya. Rezeki sedang ditunda, untuk memberikan cukup waktu bagi kita untuk membentuk diri, menyiapkan pemahaman konsekuensi yang menyertai sebuah kelebihan.
Itoek dengan anaknya yang autis. Kita memiliki kecenderungan menggolongkan, mengklasifikasi, mengelompokkan. Manusia lebih melihat autis sebagai bentuk “cacat” yang lebih berkonotasi negatip. Hal ini lahir sebagai konsekuensi sempitnya pikiran dan kurangnya pemahaman tentang hakekat sesuatu. Saya lebih suka memandang anak autis sebagai pribadi dengan keistimewaan khusus. Hakekatnya mereka adalah manusia, dengan bakat khusus, konsentrasi tinggi dan ketekunan yang luar biasa. Mayoritas kita yang dianggap “normal”, tidak memiliki hal itu.
Itoek bisa menganggap anaknya sebagai bencana. Mungkin, Itoek sering mengalami masa-masa dimana air mata selalu mengiringi pertanyaan “Aku harus bagaimana?”. Tetapi mengamati upaya yang telah terceritakan di milis ini, saya yakin, Itoek lebih menganggap anaknya sebagai anugerah.
Itoek bisa saja menganggap hal ini sebagai cobaan yang sangat berat. “Why me?”. Buntutnya adalah protes ketidak adilan Yang Esa. Tetapi saya lebih suka memandangnya sebagai bentuk kepercayaan dari yang Maha Kuasa terhadap Itoek. Seorang Itoek dinilai memiliki kesabaran, ketekunan dan dedikasi untuk menerima “titipan” itu. Orang lain mungkin tidak berdaya jika menerima tugas dan tanggung jawab seperti ini. Intinya, Tuhan telah memilih hambanya yang terbaik. Tidak ada kebetulan, semua memiliki maksud dan tujuan. Kita hanyalah "agent-Nya".
Dari sudut pandang pribadi, saya tidak akan memiliki cukup stamina untuk menghadapi hal seperti itu.. Salut untuk Itoek. Menurut penggolongan manusia, saya memiliki empat jempol, tetapi dua jempol kaki sangat tidak pantas untuk diacungkan. Mohon maaf Itoek, saya hanya dapat mengacungkan dua jempol. Saya adalah pribadi yang sangat jarang sekali berdoa, untuk sementara ini. Tetapi untuk yang satu ini saya membuat pengecualian. Semoga yang Itoek inginkan untuk anaknya, menjadi kenyataan. Doa ini tidak memakai kata “akan menjadi”, karena itu hanya berarti penundaan. Amin.
Gatut,
Cause life is a lesson, you learn it when you do - Limp Bizkit
Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)
Selengkapnya......Sekilas tentang Batik
Batik adl. salah satu seni budaya bangsa kita. Mulai dahulu kala, nenek moyang kita selalu menggunakan batik. Ada yang dipakai sbg pakaian saja & ada yang dipakai sbg. simbol kekuasaan. Pemakaian batik dijaman kerajaan disertai dg. pemakaian jenis2 keris. Seperti keris ronce melati, pamengkang jagad dlsb.
Hampir dari daerah2 di pulau jawa mempunyai ciri khas batik. Pekalongan dengan batik sekar jagad-nya, cirebon dengan mega-mendungnya, rembang dengan batik lasem-nya, solo dengan batik sogan-nya, jogja dengan batik putihan, madura dengan batik genthongan.
Bahan dari batik ada yang terbuat dari mori, shantung, katun primair, primisima, sutra, ATBM (alat Tenun bukan mesin), Thay silk, Paris, krep, organdi, obin, serat nanas, serat kayu. semua bahan2 tersebut banyak tersedia di bumi indonesia.
Jenis2 batik :
1. Batik tulis adl. batik yang ditulis dengan tangan membutuhkan waktu 1 sd 3bln pembuatannya;
2. Batik kombinasi adl. batik yang dibuat antara tulis dan ditambah dengan cap;
3. Batik Cap adl. batik yang dibuat dengan di cap dg. cetakan2 tertentu;
4. Batik Print adl. batik yang dibuat dengan mesin.
Batik solo terkenal dg batik sogan. Yang artinya batik yang berwarna coklat tanah (nature) & cenderung gelap. Di jaman sekarang semua daerah sudah bisa membuat batik warna sogan, tapi yang asli solo tidak bisa dikalahkan. Karena pembatik solo terkenal 'magis' dan berpuasa sebelum membatik. tapi sayang, solo tidak punya seni lain selain sogan.
Batik pekalongan yang terkenal sekarjagad artinya dalam 1 kain batik terdapat banyak jenis2 gbr batik. Kemudian berkembang menjadi 'beras-kutah' dimana ce-ceknya diisi oleh titik2 sebesar beras. Pekalongan lebih menonjolkan market. Batik pekalongan sudah sampai pada pasar Tong2 di Belanda karena orang belanda lebih menyukai batik yang bergambar bunga.
Batik cirebonan terkenal dengan 'mega-mendung', lokcan, siti inggil. batik cirebonan selalu bercerita tentang kekuasaan. Mega mendung adl. awan yang bercerita manusia harus mempunya cita2 setinggi langit. Siti inggil.... siti=tanah .......inggil=atas artinya kerajaan. Lokcan adl kolaborasi antara cina dan cirebon dan di batiknya selalu bergambarkan burung hong. konon, Nyimas Gandasari legendaris cirebon pernah menghadiahi batik kepada raja Cina.
Batik Madura........mayoritas batik madura adl. Tulis. Kalau ada Batik cap bermotip madura itu bukan asli madura tapi produk pekalongan yang meniru motip madura asli.. Jenis batik madura :
1. Torcetor
2. Ramok
3. Raman
4. Beddung
5. Genthongan
ad.1 Torcetor adl. batik tulis yang pewarnaannya hanya 2x celup biasanya bergambar bunga menjalar, burung.
ad.2,3.4 ramok, Raman dan Beddung adl. batik tulis yang pewarnaannya 3x sd 4x celup, gambarnya bercerita tentang isi laut.. kerang, cumi, bunga, sungai ce-ceknya lebih rumit harganya lebih mahal dari tor-cetor.
ad.5 Genthongan adl. batik tulis sempurna dibuat selama 6bln direbus didalam genthong/kuali dengan pewarnaan alami, hijau dari dedaunan, merah dari daun jati, coklat dari akar-akaran. harganya bisa mencapai jutaan. Keistimewaan dari Genthongan apabila dicuci ada warna2 tertentu yang keluar diair tapi warna itu akan terlihat tajam setelah kain batik tsb kering. Itulah genthongan disebut dengan batik istimewa.
Dari semua batik yang ada di bumi indonesia hanya batik madura yang paling etnik. karena wanita madura membuat batik2 tsb awalnya bukan untuk bisnis tapi membatik adl. meluapkan kerinduan kepada suami2 mereka yang sedang berlayar untuk mencari ikan. Makanya batik madura selalu bercerita tentang burung, bunga, sungai, isi laut seperti kerang, cumi, bunga laut dll...
Demikian sekilas tentang Batik yang sudah aku pelajari dari th.2002 sd sekarang.
"Batikku"
ITC Depok UG-B150
by Dora collection
Selengkapnya......Life is so short
*Sebuah Renungan tentang keSUKSESan*
Kelvin Hui adalah seorang Web Publishing Businessman (Founder dari ambatch.com dan SEO Master), yang berhasil mendapatkan kontrak dengan Yahoo! senilai 20 juta dollar hanya untuk mempromosikan Yahoo! Di Hongkong, Korea, dan Jepang selama tiga tahun!
Yang menarik, manusia ini justru sangat-sangat sederhana dalam berpakaian, tutur katanya sangat halus namun penuh kebijaksanaan yang membuat pemikiran saya berubah 180 derajat tentang keSUKSESan. SUKSES itu sederhana, SUKSES tidak ada hubungannya dengan menjadi kaya raya, SUKSES itu tidak serumit/serahasia seperti kata Robert Kiyosaki/Tung Desem Waringin, SUKSES itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah ANDA! Karena keSUKSESan terbesar ada pada diri Anda sendiri...
Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi satu ovum, itu adalah SUKSES pertama Anda!
Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh yang sempurna tanpa cacat, itulah keSUKSESan Anda yang kedua...
Ketika Anda ke sekolah, bahkan bisa menikmati studi S1 di saat setiap menit ada 10 siswa yang drop out karena tidak mampu bayar SPP, itulah SUKSES Anda yang ketiga...
Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan di bilangan segitiga emas, di saat 46 juta orang lainnya menjadi pengangguran, itulah keSUKSESan Anda yang keempat...
Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada tiga juta orang yang mati kelaparan setiap bulannya, itulah keSUKSESan Anda yang kelima...
SUKSES terjadi setiap hari, dan Anda tidak pernah menyadarinya...
Saya sangat tersentuh ketika menonton film "Click!" yang dibintangi oleh Adam Sandler, "family comes first," begitu kata-kata terakhirnya kepada anaknya sebelum ia meninggal...Saking sibuknya Adam Sandler dalam mengejar keSUKSESan, ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak-istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri pemakaman ayahnya, keluarganya berantakan, istrinya yang cantik menceraikannya, dan anaknya tidak mengenal siapa ayahnya...
SUKSES selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa terus-menerus menjadi best seller dengan membuat keSUKSESan menjadi suatu hal yang rumit dan sukar diperoleh...
SUKSES tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex, pensiun muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald Trump, resort mewah di Karibia, dll.
Tapi buat saya pribadi yang bisa hidup dengan sangat berkecukupan, saya rasa SUKSES memiliki arti yang berbeda...
SUKSES adalah mencintai dan bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja...
SUKSES sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan, SUKSES sejati adalah menikmati dan bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda. Pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya. Pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu Anda harus bersiap lagi menghadapi episode yang baru.
SUKSES sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak munafik, tidak menipu, apalagi scam, saleh, dan selalu rendah hati.
SUKSES itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit. SUKSES sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan, keadaan, dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.
Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami adalah seperti roda pedati. Ketika masih mahasiswa, hidup saya begitu nelangsa cuma mampu makan nasi warteg satu kali sehari dengan menu nasi setengah + sayur gratis + tempe goreng. Tetapi ternyata nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika...
Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah dan terpal, hujan kehujanan, panas kepanasan. Tetapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang...
Saya dulu pulang-pergi ke sekolah jalan kaki sejauh 40 km, memakai baju yang lusuh, tas yang kotor, dan alat tulis seadanya. Datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman, tetapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy, sama-sama sampai di tujuan ternyata...Saya pernah diundang bos saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya. Ada speaker untuk karaoke, ada tape untuk mendengarkan musik, ada home theater... Dia bilang harga speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja harganya 400 juta rupiah, saya disuruh mendengarkan waktu beliau memutar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas dan petikan bass-nya bisa terdengar jelas, tapi kok setengah jam di situ, saya bosan juga. Sama nikmatnya dengan mendengarkan musik di komputer sendiri, speakernya cuma seharga 100 ribu rupiah...
Pernahkah Anda menyadari?
Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat tukar. Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu Anda. Ya, Anda mungkin harus bekerja siang dan malam untuk membayar KPR selama 15 tahun atau membeli mobil/motor secara kredit selama tiga tahun. Namun itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda sendiri, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam hari kepada penawar yang tertinggi, untuk mendapatkan uang agar bisa membeli makanan, membayar pulsa telepon dll...
Aset terbesar Anda bukanlah rumah atau mobil Anda, tetapi diri Anda sendiri. Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat daripada orang bodoh, karena semakin berharga diri Anda, semakin mahal orang mau membeli waktu Anda...
Itu sebabnya mengapa harga dua jam Robert Kiyosaki untuk berbicara di suatu seminar = 200 juta rupiah, atau harga 2 jam seminar Tung Desem Waringin mencapai 100 juta...
Itu sebabnya mengapa Nike berani membayar Tiger Woods dan Michael Jordan sebesar 200 juta dollar hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk menjadi mahal bukan karena merk-nya, namun karena produk tersebut dipakai oleh siapa...
Itu sebabnya bola basket bekas milik Michael Jordan bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk yang sama bila dijual harganya justru turun...
Hidup ini lucu, kita seperti mengejar fatamorgana. Bila dilihat dari jauh, mungkin kita melihat air di kejauhan, namun ketika kita kejar dengan segenap tenaga dan akhirnya sampai di tujuan, yang kita lihat hanya pantulan sinar matahari saja...
Lucu, bila setelah membaca tulisan di atas, Anda masih mengejar fatamorgana tersebut ketimbang menghabiskan waktu Anda yang sangat berharga untuk sungkem kepada orangtua yang begitu mencintai Anda, memeluk hangat istri Anda, mengatakan "I love you" kepada orang-orang yang Anda cintai: orang tua, istri, anak, dan sahabat-sahabat Anda.
Lakukanlah selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat, Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam, karena LIFE IS SO SHORT. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan hobi Anda, entah itu bermain bola, memancing, menonton bioskop, minum kopi, makan makanan favorit Anda, berkebun, bermain catur, atau berkaraoke...
Enjoy your life, because life is so short...
Sumber : Milist TDA
Selengkapnya......Beware of dog
Rumah sebagai tempat tinggal mengalami pergesaran fungsi dari catatan sejarah ke sejarah. Unsur keindahan arsitektur, segi aset properti dan dinamika prestisius pergaulan setidaknya menjadi faktor yang mengalihkan fungsi rumah. Tetapi fungsi utama sebagai tempat aman untuk ditinggali (atau setidaknya untuk istirahat, tidur) masih menjadi fungsi utama.
Jaman dulu, manusia menjadikan gua, pohon dan kondisi alam lainnya sebagai area perlindungan dari bahaya, binatang buas dan cuaca. Jaman beralih, pemukiman dibangun, sampai muncul kerajaan-kerajaan dengan benteng-bentengnya. Fungsi masih tetap sama, melindungi diri dari bahaya, dari musuh apapun jenisnya. Pos jaga, prajurit, ronda menjadi perlengkapan pagar tembok tinggi menjulang.
Di kehidupan modern ini, kita juga masih membutuhkan perlindungan yang sama. Tetapi musuhnya bukan harimau atau singa, tentara kerajaan lain atau pemberontak. Tetapi kita berlindung diri dari maling, perampok, garong dan kawan-kawannya. Bentuk perlindungan ini dimanifestasikan dalam bentuk bangunan-bangunan rumah dan sistem penjagaannya.
Rumah dilengkapi dengan pagar keliling, berupa tembok, pagar kayu, bambu atau besi. Jika cukup beruntung dianugerahi kekayaan, nyewa satpam. Atau pelihara anjing, sehingga di pintu masuk dipasang tulisan ”Awas anjing galak”. Atau pelihara angsa, yang jika di sekitarnya ada orang maka angsa akan mulai mengadakan konsernya.. Semua dilakukan dengan penyesuaian keadaan masing-masing pemilik rumah atau seberapa takut terhadap apa yang dikawatirkan.
Lebih jauh lagi, bentuk perlindungan dilakukan dengan memasang kunci-kunci pintu dan jendela. Kunci, gerendel, selot, palang pintu bahkan naruh panci atau barang lain agar jika pintu atau jendela dibuka maka akan gedombrangan, suara ribut yang akan bikin maling lari. Teralis atau jeruji dipasang dijendela-jendela, yang bisa dipesan di tukang-tukang las pinggir jalan.
Teralis pun secara visual mengalami pergeseran. Dulu teralis bentuknya kaku, lurus-lurus. Semakin lama unsur seni nggabung di sektor teralis. Jadilah teralis dengan ornamen-ornamen indah, cat warna-warni atau hiasan bunga-bunga. Pengamanan rangkap, sudah ada jendela masih dikasih teralis.
Pagar, kunci dan teralis yang memiliki fungsi pengaman ini setidaknya menunjukkan tingkat ketakutan penghuni rumahnya. Semakin banyak, semakin tinggi, semakin besar, semakin kokoh, semakin ......., semakin ......., maka pemilik rumah semakin takut akan sesuatu. Semakin kawatir terhadap apapun yang akan mengganggu rumahnya, dia sendiri atau keluarganya. Paranoid ? Mungkin.
Membicarakan teralis, jadi teringat satu poster bertahun-tahun lalu. Digambarkan seorang laki-laki dengan wajah memelas, memegang teralis di jendela rumahnya. Di bagian bawah poster diberi komentar ”Seharusnya penjahat yang berada di balik terali, bukan anda”
Saat sedang jalan dengan teman-teman, saya lewat di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang tinggi (hampir 2 meter). Di atas pagar besi masih diberi tambahan teralis dengan ujung-ujung runcing, dari besi bulat yang biasa dipakai untuk tulang cor bangunan. Seperti barikade tombak pada masa-masa perang jaman pertengahan. Pagar yang rapat, teralis runcing yang padat, extra very high security system.
Seorang teman berkomentar bahwa rumah tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya tidak bersahabat. Rumah yang tidak ramah. Yang mau bertamu atau sekedar mampir apalagi nagih utang pasti segan, atau kesulitan. Padahal jika terjadi kebakaran misalnya maka pemiliki rumah akan sulit untuk menyelamatkan dirinya. Wah berarti berlindung dari bahaya dari luar rumah, justru bahaya bisa timbul dari dalam.
Tapi yang jauh lebih menarik adalah komentar teman yang satu lagi. Kira-kira begini komentarnya ”Semakin kokoh pagarnya maka yang ada di dalamnya semakin buas. Coba deh lihat di kebun binatang”.
Gatut,
Selengkapnya......
