Latest news
Beware of dog
Selasa, 14 April 2009
Rumah sebagai tempat tinggal mengalami pergesaran fungsi dari catatan sejarah ke sejarah. Unsur keindahan arsitektur, segi aset properti dan dinamika prestisius pergaulan setidaknya menjadi faktor yang mengalihkan fungsi rumah. Tetapi fungsi utama sebagai tempat aman untuk ditinggali (atau setidaknya untuk istirahat, tidur) masih menjadi fungsi utama.
Jaman dulu, manusia menjadikan gua, pohon dan kondisi alam lainnya sebagai area perlindungan dari bahaya, binatang buas dan cuaca. Jaman beralih, pemukiman dibangun, sampai muncul kerajaan-kerajaan dengan benteng-bentengnya. Fungsi masih tetap sama, melindungi diri dari bahaya, dari musuh apapun jenisnya. Pos jaga, prajurit, ronda menjadi perlengkapan pagar tembok tinggi menjulang.
Di kehidupan modern ini, kita juga masih membutuhkan perlindungan yang sama. Tetapi musuhnya bukan harimau atau singa, tentara kerajaan lain atau pemberontak. Tetapi kita berlindung diri dari maling, perampok, garong dan kawan-kawannya. Bentuk perlindungan ini dimanifestasikan dalam bentuk bangunan-bangunan rumah dan sistem penjagaannya.
Rumah dilengkapi dengan pagar keliling, berupa tembok, pagar kayu, bambu atau besi. Jika cukup beruntung dianugerahi kekayaan, nyewa satpam. Atau pelihara anjing, sehingga di pintu masuk dipasang tulisan ”Awas anjing galak”. Atau pelihara angsa, yang jika di sekitarnya ada orang maka angsa akan mulai mengadakan konsernya.. Semua dilakukan dengan penyesuaian keadaan masing-masing pemilik rumah atau seberapa takut terhadap apa yang dikawatirkan.
Lebih jauh lagi, bentuk perlindungan dilakukan dengan memasang kunci-kunci pintu dan jendela. Kunci, gerendel, selot, palang pintu bahkan naruh panci atau barang lain agar jika pintu atau jendela dibuka maka akan gedombrangan, suara ribut yang akan bikin maling lari. Teralis atau jeruji dipasang dijendela-jendela, yang bisa dipesan di tukang-tukang las pinggir jalan.
Teralis pun secara visual mengalami pergeseran. Dulu teralis bentuknya kaku, lurus-lurus. Semakin lama unsur seni nggabung di sektor teralis. Jadilah teralis dengan ornamen-ornamen indah, cat warna-warni atau hiasan bunga-bunga. Pengamanan rangkap, sudah ada jendela masih dikasih teralis.
Pagar, kunci dan teralis yang memiliki fungsi pengaman ini setidaknya menunjukkan tingkat ketakutan penghuni rumahnya. Semakin banyak, semakin tinggi, semakin besar, semakin kokoh, semakin ......., semakin ......., maka pemilik rumah semakin takut akan sesuatu. Semakin kawatir terhadap apapun yang akan mengganggu rumahnya, dia sendiri atau keluarganya. Paranoid ? Mungkin.
Membicarakan teralis, jadi teringat satu poster bertahun-tahun lalu. Digambarkan seorang laki-laki dengan wajah memelas, memegang teralis di jendela rumahnya. Di bagian bawah poster diberi komentar ”Seharusnya penjahat yang berada di balik terali, bukan anda”
Saat sedang jalan dengan teman-teman, saya lewat di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang tinggi (hampir 2 meter). Di atas pagar besi masih diberi tambahan teralis dengan ujung-ujung runcing, dari besi bulat yang biasa dipakai untuk tulang cor bangunan. Seperti barikade tombak pada masa-masa perang jaman pertengahan. Pagar yang rapat, teralis runcing yang padat, extra very high security system.
Seorang teman berkomentar bahwa rumah tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya tidak bersahabat. Rumah yang tidak ramah. Yang mau bertamu atau sekedar mampir apalagi nagih utang pasti segan, atau kesulitan. Padahal jika terjadi kebakaran misalnya maka pemiliki rumah akan sulit untuk menyelamatkan dirinya. Wah berarti berlindung dari bahaya dari luar rumah, justru bahaya bisa timbul dari dalam.
Tapi yang jauh lebih menarik adalah komentar teman yang satu lagi. Kira-kira begini komentarnya ”Semakin kokoh pagarnya maka yang ada di dalamnya semakin buas. Coba deh lihat di kebun binatang”.
Gatut,
