Latest news
Nostalgia 80-an
Rabu, 30 Juli 2008
Bagi yang anda yang mengalamai masa-masa remaja pada tahun 80-an (80's) tentu punya nostalgia yang manarik, mulai dari soal mode, musik, film, trend social dan politik saat itu dan lain-lain.
Tahun-tahun itu kita hanya punya satu stasiun TV yakni TVRI, he he he saya waktu kecil dulu sering bacanya TURI. Apa acara andalan anda di TVRI tahun-tahun itu? Si Unyil? Aneka Ria Safari? Selecto Pop? Serial Pondokan? Rumah Masa Depan?
Bagaimana dengan olah raga? Ya tahun-tahun itu olah raga kita patut dibanggakan. Semboyan yang paling terkenal adalah:
"Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olah raga" (terbalik ga ya?)
Saat itu kita bangga sekali dengan negeri kita Indonesia ini. Bayangkan disetiap perhelatan olah raga seperti SEA GAMES kita selalu diperhitungkan oleh lawan. Sekarang? Bulu tangkis kita juga jago terus. Tinju? Ah.. anda tentu ingat dengan Elyan Pical.
Saat itu musimnya penyeragaman, semuanya harus ikut pemerintah. Sampai-sampai senam dikantor dan sekolah pun harus pake standara pemerintah. Yaitu Senam Kesegaran Jasmani, disingkat SKJ. Kalau tidak salah ada beberapa versi malah. Hayooo masih ingat lagunya ga? Kalau tidak salah diawalai dengan.
Film atau selebritis?
Masih ingat The A-Team, atau serial TV HUNTER dengan De De McCall-nya. Terus ada Dede Yusuf dan Desi Ratnasari dengan serial Pondokan, ada Mathias Muchus dengan serial Losmen.
Tiap tahun juga ada kontes Cover Girl dan Cover Boy di majalah? Ah jangan-jangan ada diantara temen-temen Alumni SMA1-Jember yang pernah ikutan, ada yang tahu?
Music Indonesia saat itu? Ah siapa yang tak kenal Musica Studio. Adakah diantara kalian yang masih nyimpen kaset-kaset lama?
Untuk lagu, tentu anda masih ingat "Yang... hujan turun lagi yang" he he he
Nah temen-teman untuk membawa anda ke suasana saat itu, ikutilah ceritanya di http://lapanpuluhan.blogspot.com
Ada juga kumpulan lagu-lagu Indonesia saat itu http://lagukenangan.wordpress.com/ (khusus bagi anda yang punya broadband connection, bisa menikmati streamingnya dari Youtube).
Baiklah kawan-kawan,
Sampai disini dulu...
Unyil kucing.
Written by BHQ using Windows Live Writer
Selengkapnya......Orang rendahan dan orang terhormat
Jumat, 25 Juli 2008
Seoarang teman memberikan link ke wawancara Eni Kusuma, seorang TKW cerdas yang sukses mentransformasi diri menjadi penulis. Ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak, ketika dia ditanya tentang profesi pembantu rumah tangga yang lekat dengan konotasi rendahan dan tidak berpendidikan:
Banyak orang-orang dari profesi “terhormat” yang merugikan orang lain dan negara. Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang dari profesi “rendahan” yang berguna bagi orang lain dan negara. Kami, para pembantu, tertawa saja melihat ulah birokrasi yang merugikan dan mempersulit kami. Padahal, semuanya bisa dipermudah. Atau sebagai orang miskin, kami geli dengan anggota dewan yang terhormat, protes atau demo karena diminta untuk mengembalikan uang rapelan.
Sekarang jelas bukan, siapa yang berpendidikan apa? Siapa yang lebih miskin? Siapa yang merasa lebih “rendah” gajinya?
Ini mengingatkan saya dengan tulisan saya sebelumnya tentang prilaku miskin.
Wawancara lengkapnya disini
Salesman dan Listrik Mati
Konco-konci ehh.. konco-konco kabeh...
Timbangane streesss, ayok guyonan.
Iki ono cerito dibalik PLN (Perusahaan Listrik Nan Aneh kuwi), juragan listrik byar pet alias sering mati lampu.
Kapanane onok Salesman Vaccum Cleaner teko nhik omahku.
Ewangku durung sempet ngomong opo-opo moro-moro salesman iku
mau langsung nyebarno tembelek wedhus ndhik karpet.
Jarene ngene ”Wis pokoke buk, lek sampek vaccum cleanerku iki gak
isok nyedot, tak jamin tak emploke sithok-sithok tembeleke wedhus iku.”
Jare ewangku ”Peno kepingin didhulit sambel tha ngemploke ?”.
”Lho opoko masalae ?” salesmane takok.
”Lha peno gak ndhelok tha saiki lampu mati ...”
Cerita disadur dari:
http://www.scribd.com/doc/1079320/Humor-Suroboyo
Salam
Imam BHQ
Agar Mudah Naik Jabatan
Rabu, 23 Juli 2008
Sumber : www.dexton.adexindo.com
Dear God,I beg you
Selasa, 22 Juli 2008
WASIT UNTUK DIRI SENDIRI
MAMAD adalah orang yang sederhana. Jalan hidup dan pola pikirnya.
Namun siapa sangka di balik itu, tampak sebuah kejujuran yang luar biasa. Di kantornya tempat bekerja, dia ogah menggunakan hanya selembar kertas untuk kepentingan pribadinya. Padahal tak ada yang melihat dan mengawasi dia. Selembar kertas dari setumpuk yang tersedia, tidak dipakai untuk keperluan dirinya. Boro-boro si Mamad
kenal dengan Mr. Brooks, yang kutipannya dipakai dalam tulisan kali ini. Namun, Mamad dengan segala kepolosannya bisa memenangkan pertarungan luar biasa yang dimaksudkan Brooks. Selembar kertas bisa menjadi ajang berat bagi hati nurani Mamad. Tetapi Mamad bisa memutuskannya dengan sempurna, kertas itu milik kantor dan dia tak berhak menggunakannya. Hampir tak ada konflik di dalamnya, karena Mamad sudah mendapatkan jawabnya.
Si Mamad, tokoh itu memang hanya ada dalam film karya Sjumandjaja.
Sepulang dari belajar film di Rusia, Sjumandjaja membuat film itu dengan memasang aktor andal, Drs Purnomo alias Mang Udel.
Pesan dalam film ini mudah sekali ditangkap, sekali berhadapan dengan segala benturan kepentingan yang berhadapan, pilihan yang benar dan tepat haruslah yang diambil.
Sekali lagi, sudah pasti sebelum memutuskan hal itu, Mamad berkonflik dalam dirinya. Beli kertas di luar lebih baik ketimbang mengambil sesuatu yang bukan menjadi miliknya.
Adakah kita sudah berlaku seperti Mamad? Rasanya berat sekali dan sudah jelas sulit untuk dilakukan. Saat berada di kantor, kita selalu kalah.
Pesawat telepon di atas meja, kita ambil lalu putar nomor telepon seluler kawan untuk memastikan pertemuan reuni dengan teman lainnya semasa kuliah dulu.
Persis seperti Mamad. Namun bedanya, kita kalah dengan konflik itu sendiri. Menelepon dengan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi, ehm, gratis sih. Tapi apakah tindakan itu benar? Apalagi kantor sudah berbaik hati memberikan sedikit subsidi pulsa. Tentu saja kita bisa berdalih, ah, semua orang di kantor melakukan hal itu. Dan waktu yang dipakai untuk menelepon itu, toh hanya sebentar. Lagi pula, nah ini biasanya alasan yang sering muncul, kantor untung terus tapi kenaikan gaji hanya sebesar upil, jadi boleh dong memakai telepon kantor.
Namun sekali waktu bila tagihan telepon di rumah melambung tinggi dan ternyata pemakai pulsa itu sang pembantu atau pengasuh anak untuk berhalo-halo dengan bedinde di luar kota, sudah jelas meledaklah kemarahan kita.
Pembantu rumah tangga yang memakai telepon majikannya adalah salah satu contoh ketika benturan kepentingan terjadi, sang pembantu tidak bisa menjadi wasit yang paling adil. Semestinya, walaupun dia menguasai telepon pada masa-masa tertentu saat kedua majikannya pergi ke kerja, dia tidak boleh memakai telepon tersebut.
Benturan kepentingan sering kali kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, yang kelihatannya ringan sekalipun, bahkan kita lakukan sendiri tanpa kita sadari.
Misalnya saja kita memarkir mobil di jalan, bukan di garasi, padahal jalan merupakan jalan umum; menggunakan internet untuk urusan pribadi, seperti chatting, mengirim dan menerima email, atau hanya sekedar untuk browsing; atau menggunakan kendaraan kantor untuk urusan dugem misalnya.
Kelihatannya memang sepele. Kita bahkan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, tanpa ada rasa bersalah.
Tetapi patut diingat, bahwa hal-hal kecil seperti ini adalah awal dari dilakukannya suatu kesalahan besar.
Koruptor di negara ini, dalam melakukan tindakan kriminalnya, tentu tidak ujug-ujug langsung melakukan korupsi. Sudah tentu dimulai dari hal-hal kecil seperti ini.
Dari kebiasaan yang buruk dan terus dilakukan secara berulang-ulang inilah, akhirnya mereka berani melakukan kesalahan besar.
Dalam laporannya di edisi Juni 2007, Majalah Gatra secara khusus membeberkan adanya proyek-proyek pemerintah yang dinilai berbau benturan kepentingan.
Perusahaan-perusahaan yang menangani proyek pemerintah tersebut dimiliki oleh pejabat atau keluarga pejabat yang masih menjabat di Pemerintahan.
Negara ini pun sesungguhnya sudah menangani dan menindaklanjuti secara hukum beberapa kasus-kasus yang berbau benturan kepentingan.
Kasus paling hangat mengenai benturan kepentingan ialah kasus yang menimpa PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Akhir 2007, Bapepam mengumumkan 9 nama orang dalam PT PGN yang diganjar sanksi administratif berkaitan dengan kasus informasi orang dalam (insider trading).
Tuh kan, dari hal kecil bisa menjadi kebiasaan buruk.
Kita memang dihadapkan pada keadaan yang dilematis ketika menghadapi masalah yang terkait dengan benturan kepentingan ini.
Bahkan kadang, bagai buah simalakama, `dimakan bapak mati, gak dimakan emak yang mati.'
Bagaimana agar kita dapat mengatasi masalah bila terkait dengan benturan kepentingan?
Pertama kali, kita harus secara sadar dan bertanggung jawab mengetahui terlebih dahulu mana kepentingan yang merupakan wilayah publik (public domain) dan wilayah pribadi (private domain). Setelah kita mengetahuinya, berpikirlah dengan hati yang jernih. Dan bila kita mau berpikir ke depan, bukan untuk kepentingan sesaat, dengan tujuan mengutamakan kemashalatan orang banyak, maka kita dapat memutuskan kebijakan dan keputusan terbaik agar terhindar dari adanya benturan kepentingan.
Pada awalnya mungkin sulit, tetapi bila mau dan memang harus mau, maka selanjutnya akan mudah.
Konflik terbesar adalah bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri kita sendiri.
Sudah menjadi hukum alam, selama kita hidup di dunia benturan kepentingan akan selalu menyertai langkah kita.
Persoalannya, semua terserah pada kita sendiri.
Larut dalam kesenangan yang bukan menjadi hak atau meraih kemenangan dari perang yang sesungguhnyalah yang kita raih. Bisa?
(Sumber: Wasit untuk Diri Sendiri oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta)
BONUS :
"Konflik terbesar adalah bukan dengan orang lain,
melainkan dengan diri kita sendiri."
(Garth Brooks, penyanyi country asal Amerika)
Kenaikan Gaji - Renungan bagi para karyawan..
Senin, 21 Juli 2008
Suatu pagi Bahlul memutuskan untuk menghadap ke Pak Bento HRM (Human Resource Manager) dan setelah salingmengucap salam maka Bahlul segera dengan bersemangat menyampaikan maksud hati dan segala uneg-unegnya kepada HRM untuk meminta kenaikan gaji. Pak Bento, setelah menatapnya beberapa saat kemudian tertawa, mempersilahkannya untuk duduk dan berkata, "Ha ha ha,dengar kawan, anda itu bahkan belum bekerja untuk perusahaan ini meskipun satu hari..!"
Tentu saja Bahlul sangat terkejut mendengar hal itu namun pak Bento segera meneruskan,
Bento: "Coba katakan ada berapa hari dalam setahun?"
Bahlul: "365 hari dan kadang-kadang 366 hari."
Bento: "Betul, sekarang ada berapa jam dalam sehari?"
Bahlul: "24 jam."
Bento: "Berapa jam kamu bekerja dalam sehari?"
Bahlul: "Dari jam 08:00 s/d 16:00 jadi 8 jam sehari."
Bento: "Jadi, berapa bagian dari harimu yang kamu pakai bekerja?"
Bahlul: "(mulai ngitung dalam hati.....8/24 jam =1/3)....sepertiga! "
Bento: "Wah pinter kamu!, Sekarang berapakah 1/3 dari 366 hari?"
Bahlul: "122 (1/3x366 = 122 hari)"
Bento: "Apakah kamu bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?"
Bahlul: "Tidak Pak!"
Bento: "Berapa jumlah hari Sabtu dan Minggu dalam setahun?"
Bahlul: "52 Sabtu ditambah 52 Minggu = 104 hari."
Bento: "Nah, kalau kamu kurangkan 104 hari dari 122 hari, berapa yang tinggal?"
Bahlul: "18 hari."
Bento: "Nah, saya sudah kasih kamu 12 hari cuti tiap tahun. Sekarang kurangkan 12 hari dari 18 hari yang tersisa itu berapa hari yang tinggal?"
Bahlul: "6 hari."
Bento: "Di hari Natal dan Tahun Baru apakah kamu bekerja?"
Bahlul: "Tidak pak!"
Bento: "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Bahlul: "4 hari."
Bento: "Di hari Idulfitri dan Idul Adha apakah kamu bekerja?"
Bahlul: "Tidak pak!"
Bento: "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Bahlul: "2 hari."
Bento: "Sekarang sisa tersebut kurangi dengan Libur Waisak, Imlek, Nyepi, 1 Syuro, Maulud, Isra' Mik'aj, Wafat Yesus, Kenaikan Isa Al-Masih, proklamasi............ ....berapa hari yang tersisa?"
Bahlul: "...???..... ....gak ada sisa pak."
Bento: "Jadi sekarang anda mau menuntut apa?"
Bahlul: "Saya mengerti pak, sekarang saya sadar bahwa selama ini saya sudah makan gaji buta dan telah mencuri uang perusahaan dengan tidak bekerja sedikitpun. Saya minta maaf"
MENYALAHKAN SEBENARNYA TIDAK PENTING
Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White.
Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka.
Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku-orang luar-seperti sepupu jauh.
Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting.
"Siapa yang melakukan ini?" ibuku membentak melihat dapur berantakan.
"lni semua salahmu, Katharine," ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah atau mesin cuci piring rusak.
Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku saling mengadu.
Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan.
Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa. Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka.
lndahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal.
Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan.
Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.
Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Florida ke New York.
Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas tahun.
Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu.
Dengan tawanya yang lucu, ia memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.
Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi.
Di suatu tempat di South Carolina, kami keluar dari jalan tol untuk makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau tidak memperhatikan atau tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami. Jane langsung meninggal.
Aku selamat hanya dengan sedikit memar.
Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal.
Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak.
Saat suami-istri White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.
Kepala dibalut perban; kaki Amy digips.
Mereka memeluk kami semua dan menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka.
Mereka menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia belajar menggunakan kruknya.
Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy, berulang-ulang mereka hanya berkata, "Kami gembira kalian masih hidup."
Aku tercengang.
Tak ada tuduhan.
Tak ada tudingan.
Kemudian, aku menanyakan Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas.
Bu White berkata, "Jane sudah tiada, dan kami sangat merindukannya. Tak ada yang dapat kami katakan atau perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang. Bagaimana ia bisa menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami menyalahkannya atas kematian kakaknya?"
Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu.
Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa.
Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua bernama Jane.
Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya tidak penting.
Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali.
(Author Unknown)
BONUS :
Forgiveness does not change the past,
but it does enlarge the future.
(Paul Boese)
Kuliner Jadoel
Rabu, 16 Juli 2008
1. Ketan ayu
Lokasi : Bawah jembatan Jompo
Status : Sampai sekarang masih ada. Rasanya pun kurang lebih masih sama. Selain ketan, jajanan lainnya pun ada. Jangan lupa mencoba STMJ-nya...uenak tenan.
2. Bakso Solo
Lokasi : Sebelah bioskop Sampurna
Status : belum di-survey lagi
3. Bakso Pak Sabar
Lokasi : Perempatan bunderan kampus
Status : Tempatnya makin kecil, rasanya pun semakin gak karuan. Kemungkinan karena mereka merubah resep (mungkin karena harga bahan baku semakin mahal). Sekarang dijalankan oleh generasi ke-2
4. Soto Dahlok
Lokasi : Seberang toko Walisongo, J. Raya Sultan Agung, masuk ke jalan kecil
Status : Masih eksis dan rasanya pun masih mantap
5. Gudeg Pecel PTP
Lokasi : Kompleks perumahan PTP Al-Huda
Status : Sekarang tambah ramai, buka sepanjang minggu kecuali hari sabtu prei
6. Pecel Linggarjati
Lokasi : Sebelah toko Linggarjati, Jl. Raya Sultan Agung
Status : Masih buka.
Ciri : Paduan unik antara pecel dengan lodeh nangka. Pecelnya hanya dilengkapi dengan sawi pahit dan tauge
Monggo nek onok sing arep nambahi, login nganggo prosedur di bagian kanan halaman ini.
Selengkapnya......Memorabilia
Jumat, 11 Juli 2008
[Berdiri ki-ka : Wied, Slatem, Budi Set
Depan : Dzul]
Depan ki-ka: ..., ..., ..., ..., ..., ..., Uyung, Bejo, Marsudi]
Ketemuan di Empu Sendok
Embuh nang endi enggone, lha aku ra tau mrono....maklum, wong ndeso, ndeso Suroboyo.....hehehe
Tanggal penyelenggaraan juga gak jelas. Sebagian masih bisa dikenali, yg lainnya wallau a'lam.....sudah berubah bentuk sehingga sulit dikenali lagi ...... huahahaha...
[Kesempatan poto bareng artis terkenal (baju & rambut merah) tidak di-sia2-kan oleh para penggemar yg antusias]
[Tampak raut kegembiraan di wajah para fans bisa bertemu dan ber-bincang2 langsung dg sang artis]
Ket. Gambar :
Berdiri ki-ka:
Teguh, Diana Raesita, Dora, Dian Triwidyawati, Maya Ida Zuraida, Meylana Hermawan, Rochim, Irham, Lucky, Halimatus Saadiah, Wawan
Duduk ki-ka:
Eva Sofia, Shinta Setia
Reuni di Urban Kitchen, SenCi
Seneng banget ketemu dg bayang2 lama, alias konco lawas.... Mumpung bayang2 gak semakin kabur, monggo dinikmati wajah2 ndeso yg lagi kumpul2 di dapur ndeso ....
Ayo rek kumpul disik, arep di poto iki lho ....
Beginilah tampang orang2 yg jarang di poto, bahagia sekali kan ? hehehehe.....
[Wawancara dengan ibu pejabat tinggi (ke-2 dari kiri), dihadiri oleh pejabat departemen terkait (ke-2 dari kanan) disertai ajudannya (paling kanan) dan perwakilan dari pihak sponsor (paling kiri)]










