Latest news

Insya Allah kita akan mengadakan Reuni Akbar di tahun 2009. Jangan sampai ketinggalan acara yg akan HEBOH itu dg mendaftar pada : Dora 085214812345, Etty 081321298399, Wiwied 081227371071 dan Faiz 081231179505.

SURAT BUAT MAMA

Rabu, 18 Februari 2009

Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.
Kan , mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.

Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya.
Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh.
Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma.
Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja.

Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan.
Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan?

Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya?
Nanti mama ngga bisa kerja ya?
Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya?

Kalo gitu susah ya, Ma?
Mbak ngga diganti ngga apa-apa tapi mama bilangin dong jangan galak sama aku.

Ma,bisa ngga hari Kamis sore mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin aku siapa?

Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong.
Kalo mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya.

Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, Ma.

Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, Ma.

Temen-temen tuh ngga pernah liat mama.
Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan mereka jadinya udah lupa tampangnya mama.
Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh.
Uangnya mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh.

Uangnya mama tabung aja. Kalo uang mama udah banyak, kan mama ngga usah kerja lagi.
Nah, itu baru sip namanya.

Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama mama kali ya?

Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk.
I love you Ma..

------------ --------- ---------

Tahu kah anda...saat kita tua dan pensiun...atau saat kita meninggal...perusahaan memiliki ratusan, bahkan ribuan orang untuk menggantikan kita.

Tapi sadarkan kita...tidak ada satu pun yang bisa menggantikan kita di hati, pikiran dan ingatan anak kita tercinta yang ada di rumah...

SUDAHKAH KITA MEMIKIRKANNYA?

 

Kiriman dari jeng Itoek

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 08.43 0 komentar  

Syukur

Senin, 16 Februari 2009

Jaman sudah serba modern, jamannya teknologi dan informasi. Kita menerima sekian banyak hal yang dapat dipelajari dari dunia lain. Misalnya bersyukur. Informasi ini dikemas sedemikian rupa sehingga logis dan menarik. Tetapi yang mungkin dilupakan adalah nenek moyang kita sendiri sebenarnya telah lama mengerti ilmu ini. Ilmu tua yang secara kemasan tidak  menarik dan secara logika seringkali tidak masuk akal.

Bersyukur seolah-olah menjadi aktivitas sistematik yang sulit dilakukan. Kegiatan ini sepertinya baru bisa dilakukan jika ada panduan teknis bagaimana caranya. Dan hal ini menjadi komoditi komersial yang dibungkus cover-cover berwarna dan dengan bahasa-bahasa bombastis. Sehingga muncul pertanyaan, lha wong cuma bersyukur kok harus dipelajai sedemikian rumitnya? Lalu pentingnya untuk apa?

Syukur biasanya diekspresikan dengan ucapan-ucapan. Sudah dijanjikan bahwa siapa yang mau bersyukur maka akan ditambah nikmatnya. Implikasinya adalah masalah kualitas bukan kuantitas. Kalau biasa minum segelas kopi di warung pinggir jalan dengan aroma selokan di sekitarnya, tetapi masih mau bersyukur maka bukan berarti besok akan minum dua gelas atau lebih di warung yang sama. Atau lusa akan dapat kesempatan nyruput kopi jenis lain di Starbuck. Tetapi jika mau bersyukur maka segelas kopi yang sama di warung yang sama baunya akan terasa jauuuuh lebih nikmat, serasa di Starbuck.

Memiliki seorang istri jauh dari cantik tetapi mau bersyukur. Bukan berarti besok jumlah istrinya ditambahi (asyik) atau istrinya menjadi lebih cantik. Ah yang bener saja, kalau hancur ya hancur sajalah. Tetapi mungkin besok istri akan tampak sedikit lebih cantik jika telaten melihatnya. Atau tambah baik, tambah perhatian dan tambahan-tambahan lain yang akan terasa jauuuh lebih menyenangkan.

Sebenarnya, apakah syukur itu? Syukur itu mau menerima semua pemberian apa adanya, berterima kasih terhadap apapun yang diterima. Tidak ada komplain, tidak ada keluhan. Pasrah, sumeleh, nrimo ing pandum. Nah, inilah ilmu tua tersebut. Setidaknya di etnis Jawa, hal ini bukan hal baru. Etnis ini sangat mengerti dan sangat lekat dengan kegiatan bersyukur. Bahkan mereka memiliki ritual khas yaitu syukuran atau karena asimilasi agamis menjadi tasyakuran. Syukur katanya berteman dekat dengan untung, slamet, sabar, legowo, mulyo dan lain-lain. Makanya istilah-istilah ini banyak dipakai untuk nama orang. Kita tidak pernah mendengar ada orang (Jawa) diberi nama “ruwet, ciloko, apes atau kata-kata buruk lainnya”.

Contoh bagaimana leluhur menyikapi suatu kecelakaan motor. Motornya rusak parah. Tapi masih untung orangnya tidak apa-apa. Orangnya lecet-lecet tapi masih untung nggak patah tulang.  Orangnya patah tulang tangan masih slamet nggak patah tulang leher. Sudah patah leher masih syukur bisa diselamatkan dan nggak sampai mati. Nah, khan. Bahkan pada kondisi terburuk pun, nenek moyang kita tahu bagaimana harus bersikap. Bersyukur sampai pada kondisi terparah yang dialami.

Makanya, teman-teman yang sekarang bermukim atau terdampar di daerah Ngayogyokarto Hadiningrat dan sekitarnya seharusnya lebih bisa menerapkan konsep ini karena mereka berada dekat dengan “sumbernya”.Yang menikah dengan warga asli bahkan bisa dikatakan “sehari-hari bahkan sudah tidur dengan sumbernya”. Seharusnya lebih cepat ketularan mudah bersyukur karena proses perkawinan ini telah menjadikan banyaknya acara “tukar-menukar” atau sharing banyak hal. Ya sharing hormon, enzim dan cara pandang.

Bersyukur seharusnya mudah. Tinggal mau menerima segala sesuatu apa adanya. Dapat rejeki sedikit disyukuri. Istri wajahnya pas-pasan, meskipun sedikit mual, ya “dinikmati saja”. Harus lega dan lapang dada. Lega itu perasaan dan perasaan itu ada di hati (kalbu).  Makanya diistilahkan lapang dada karena hati dalam hal ini secara anatomi dilokasikan di daerah dada. Coba kalau di area lain, mungkin istilahnya menjadi lapang kaki atau bahkan lapang pantat. Hati yang harus dikelola, dimanajemeni.

Jika masih terasa sulit menerima apa adanya atau susah untuk sekedar bersyukur mungkin bisa dicoba dengan mengurangi keluhan, bahkan bisa sampai tahapan nol keluhan. “Yah, cuma dapat duit segini” atau “aduh, macet”. Masih untung kan dikasih duit atau mobil nggak mogok di kemacetan. Mengeluh artinya tidak sabar, masih “kemrungsung” (wis ojo diplesetno maneh), masih tidak ikhlas. Mengeluh berarti tidak mau mensyukuri. Masih saja “kurang”. Lalu bagaimana akan “ditambah” kalau tidak mau bersyukur. Kalau tidak mengeluh pun masih susah, introspeksilah, istighfar yang banyak.

Begitulah, membahas “syukur” bisa panjang lebar. Tapi saya mau bikin segelas kopi dan diminum sambil disyukuri. Siapa tahu, besok ada yang ngajak nongkrong di Starbuck.

Gatut,

I told you everything loud and clear - Linkin Park

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 14.01 0 komentar  

Wanita karir

Perubahan jaman, tuntutan ekonomi atau karena jasa seorang Kartini (meskipun versi sejarah lain mungkin berbeda), menjadikan wanita (istri) yang bekerja menjadi hal yang lumrah. Tetapi polemik seringkali muncul karena masalah kodrati dan tanggung jawab mengelola urusan rumah tangga sehari-hari. Sementara, karir seringkali tidak bisa berjalan bersamaan dengan kesuksesan rumah tangga. Salah satu harus mengalah dan menjadi korban.

Tetapi, seorang istri yang bekerja juga berhubungan dengan tingginya tingkat pendidikan dan tanggung jawab moral untuk mengaplikasikan ilmunya. Belum lagi alasan sederhana, daripada nggangur yang berakhir dengan pembentukan klub gosip. Apapun alasannya, yang jelas jaman sekarang, wanita bekerja. Titik. Yang justru menarik adalah sikap para pria (suami).

Reaksi negatif suami dapat berupa perasaan tidak “nyaman” jika istrinya bekerja. Hal ini mungkin disebabkan karena :

1. Pergaulan istri menjadi lebih luas.

Dalam hal ini akan terjadi kekawatiran karena isteri bekerja berarti “pemandangan”  yang lebih luas. Kontrol terhadap pergaulan atau posisi dianggap sulit sehingga menimbulkan perasaan curiga dan posesif.

2. Kemungkinan posisi kerja istri menjadi lebih baik.

Jabatan yang lebih tinggi atau karir istri yang lebih pesat akan melukai “harga diri” suami. Ketidakseimbangan akan terjadi. Si suami cuma kopral tapi istrinya sudah jenderal. Penghasilan istri juga menjadi lebih tinggi, sehingga runtuhlah posisi suami sebagai “pemberi nafkah lahir”.

3. Kemungkinan terbengkalainya urusan rumah tangga.

Misal pengasuhan anak menjadi terganggu sehingga muncul ketakutan anak-anak akan menjadi “anak pembantu, anak kaleng susu, atau anak sapi”

4. Kurangnya waktu untuk suami.

Bagaimanapun seorang suami butuh teman bicara, orang terdekat untuk berbagi cerita dan kesombongan.. Istri yang bekerja dianggap tidak dapat memberikan cukup waktu. Bahkan jika mau “private meeting” mungkin perlu janjian dulu, atau mengajukan surat permohonan. Ma, besok malam kita ..........ya?

Ketidak nyamanan suami akan berbuntut pada bentuk-bentuk pengekangan karena perasaan tidak aman seringkali ditunjukkan dalam bentuk “penyerangan”. Padahal jika dilihat point-point di atas, sebenarnya masalahnya ada pada siapa?. Lebih parah lagi jika sikap yang diambil adalah bentuk “kejahatan verbal”.

Maka dari itu, perlu penyeimbangan, perlu kompromi. Seorang istri bisa saja bekerja paruh waktu atau jenis pekerjaan yang waktunya fleksibel. Memang akan ada persyaratan, “Kau boleh bekerja, asal ..... tetapi hal ini masih lebih baik daripada pengekangan atau reaksi lain yang berlebihan. Misalnya istrinya sudah berpenghasilan, jadi suami merasa tidak perlu lagi memberikan “uang belanja”. Embargo ekonomi ini dimaksudkan agar istri mengalami “kesulitan finansial” sehingga berbalik kembali ke kodratinya. Percayalah, hal seperti ini ada dan terjadi. Kehidupan suami istri akan menjadi pertempuran yang melelahkan.

Status istri yang tidak bekerja (ibu rumah tangga), menjadi perdebatan berabad-abad sampai akhirnya diambil kesimpulan bahwa ibu rumah tangga adalah “karir tersulit di dunia”. Mayoritas suami merasa lebih “aman” jika istrinya berstatus seperti ini. Padahal karir tersulit ini bukan aktivitas mudah dan seharusnya memerlukan kerja tim. 

Istri yang bekerja pun, melelahkan dan butuh energi ekstra. Misalnya, istri yang jualan rujak “siang ngulek, malam diulek. Yang jadi guru “siang ngajar, malam dihajar”. Yang jadi dokter “siang nyuntik, malam disuntik”. Yang jadi supir “siang mengendarai, malam ...........”. Teruskan sendiri deh.

Terlepas dari segala sesuatunya, hal ini mungkin hanya sebuah perspektif dari satu sisi. Sisi yang mungkin disebut orang sebagai feminis. Juga tidak bisa digeneralisir. Bagaimanapun suatu hal harus dipandang dari banyak sudut agar apa yang diamati menjadi jelas dan lengkap.

Gatut,

I did'nt mean to hurt you - Marshall Matthew

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 12.56 0 komentar  

Kesimbangan suami istri

Salah satu hukum yang berlaku di kehidupan adalah hukum kesimbangan. Burung terbang membentangkan sayapnya berdasarkan keseimbangan. Bumi berputar pada poros mayanya berdasarkan kesimbangan. Bahkan seluruh ciptaan-Nya yang diberi istilah alam semesta berjalan dengan hukum kesimbangan.

Hukum keseimbangan didasari pada semua komponen yang bekerja sebagaimana mestinya. Misal jika sebuah mobil, roda depan berputar sementara roda belakang berhenti maka kesimbangan tidak tercapai. Atau contoh ekstrem yang ditakuti laki-laki dan berdampak pada wanita, masalah impotensi. Karena “satu komponen” tidak berfungsi maka keseimbangan tidak tercapai. Kasim, pelayan yang dikebiri akhirnya memiliki penyimpangan kehidupan seksual dan mempunyai ambisi kekuasaan yang berlebihan. Nggak imbang.

Demikian juga dengan kehidupan suami istri.. Keseimbangan sangat diperlukan. Kalau salah satu jauh lebih tinggi dari yang lain, mesti orang bilang “wah butuh dingklik”. Keseimbangan bisa dalam bentuk :

1. Pendidikan. Jika salah satu memiliki gelar S1 maka yang lain sebaiknya juga demikian, atau setidaknya hanya setingkat di bawahnya. Biar bisa nyambung. Jika yang satu ngomong masalah kebijakan harga BBM, maka akan jadi nggak seimbang jika yang lain berpikir masalah kompor di dapur. Makanya sampai ada persyaratan, istri lulusan Akabri minimal harus sarjana, dan masih banyak contoh lain.

2. Status sosial. Jika seorang jadi pimpinan maka pendampingnya harus bisa mengimbangi, setidaknya bisa berperilaku layaknya seorang pendamping pimpinan. Kalau seseorang mendatangi suatu acara resmi dengan pakaian necis, maka nggak pada tempatnya jika pasangannya pakai sandal jepit.

3. Pengetahuan. Setidaknya kalau ngobrol biar bisa klop. Coba bayangkan jika kita sudah ngomong panjang lebar, pasangan cuma buka mulut, “dlongop” dan berkata “hah?”. Atau pada masalah mendidik anak, benar-benar jadi maslaah jika yang satu pakai metode masa kini sementara yang lain masih sambil bawa sapu lidi.

4. Hobi, sifat dan masih banyak lagi.

Makanya para leluhur mengatakan kalau cari jodoh harus dilihat bibit, bobot dan bebetnya. Sepertinya hal ini disalah pahami sebagai bentuk pemilihan berdasarkan materi semata, padahal hal ini menjadi konsep yang tinggi dalam seleksi. Pasangan dianggap “jodoh” jika ada kemiripan di wajah. Ini adalah sebuah bahasa simbolik nenek moyang. Setidaknya harus memiliki banyak kesamaan. Makanya kalau “bubaran” ada ungkapan “we have nothing in common”.

Kita memang tidak bisa berharap agar setiap pasangan memiliki semua persamaan yang ada. Tetapi perbedaan yang disadari sekalipun bisa memicu terjadinya masalah. Jika pasangan terlalu pendiam meskipun yang lain sangat menyadari hal itu, hal ini akan menjadi sebuah kerawanan karena dapat memicu yang lain untuk mencari “lawan bicara yang seimbang” di dunia luar. Sementara “lawan bicara yang seimbang” adalah nominator “lawan tanding” untuk babak-babak selanjutnya.

Komunikasi itu dua arah (mestinya begitu kan, Etik). Setidaknya, jika terdapat sebuah perbedaan maka satu sama lain harus mendekat, agar kesenjangan tidak terlalu lebar lagi. Kalau yang satu bersikukuh pada posisinya maka tinggal tunggu waktu terjadinya proses “melarikan diri”.

Proses “mendekatkan diri” pada suatu perbedaan dapat dilakukan dengan toleransi. Misal yang satu suka mendengarkan musik yang keras. Dia harus mau mengurangi volume karena pasangannya tidak suka suara ribut. Tetapi yang lain harus mulai menolerir “yah, kalau suara segitu, nggak apa-apa lah”.

Proses penting yang lain adalah komunikasi langsung, berbicara satu sama lain. Ngobrol antar pasangan menjadi hal penting meski terlihat sepele. Sex memang vital, tapi itu kan cuma butuh beberapa menit (memang ada yang sampai jam-jaman, berhari-hari?). Sisa waktu sekian banyak dalam sehari kan kebanyakan digunakan untuk ngomong. Komunikasi.

Bagaimana kesimbangan anda dengan pasangan? Dicek lagi. Ambil timbangan badan dan meteran.

Gatut,

Andai engkau jadi bunga .... (siapa ya yang menyanyikan?)

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 11.54 0 komentar  

4 Skenario

SKENARIO


Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangka n kaki.

Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya
kepada kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,"
kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung
memberikannya kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.

Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone
kita sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa
terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang
yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap
ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia
mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak
memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba
bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan
handphone itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.

Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua
bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada
orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.

Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat
mengembalikan handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone
kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan
handphone tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang
diberikan oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?
Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario
ketiga).


Moral of the story

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan
ada orang yang menemukannya.


Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun
dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah
itu baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.


Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.


Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita
menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita
tersebut selama itu.
Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling
besar
.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus,
tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan
banyak, kita berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.

Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum
sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat
itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang
mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari
kereta.
Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone
kita kembali.
Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang
yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada
kita.
Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai
handphone yang kita miliki.

Kesimpulan
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?
Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.
Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.
Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah
hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
bersyukur?
Sebaiknya tidak.
Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu
masih ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah
lenyap dari diri kita.
Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.
Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

God bless you all.

 

Dikutip dari internet.

Selengkapnya......
Diposting oleh Faiz di 09.15 0 komentar