Latest news
Syukur
Senin, 16 Februari 2009
Jaman sudah serba modern, jamannya teknologi dan informasi. Kita menerima sekian banyak hal yang dapat dipelajari dari dunia lain. Misalnya bersyukur. Informasi ini dikemas sedemikian rupa sehingga logis dan menarik. Tetapi yang mungkin dilupakan adalah nenek moyang kita sendiri sebenarnya telah lama mengerti ilmu ini. Ilmu tua yang secara kemasan tidak menarik dan secara logika seringkali tidak masuk akal.
Bersyukur seolah-olah menjadi aktivitas sistematik yang sulit dilakukan. Kegiatan ini sepertinya baru bisa dilakukan jika ada panduan teknis bagaimana caranya. Dan hal ini menjadi komoditi komersial yang dibungkus cover-cover berwarna dan dengan bahasa-bahasa bombastis. Sehingga muncul pertanyaan, lha wong cuma bersyukur kok harus dipelajai sedemikian rumitnya? Lalu pentingnya untuk apa?
Syukur biasanya diekspresikan dengan ucapan-ucapan. Sudah dijanjikan bahwa siapa yang mau bersyukur maka akan ditambah nikmatnya. Implikasinya adalah masalah kualitas bukan kuantitas. Kalau biasa minum segelas kopi di warung pinggir jalan dengan aroma selokan di sekitarnya, tetapi masih mau bersyukur maka bukan berarti besok akan minum dua gelas atau lebih di warung yang sama. Atau lusa akan dapat kesempatan nyruput kopi jenis lain di Starbuck. Tetapi jika mau bersyukur maka segelas kopi yang sama di warung yang sama baunya akan terasa jauuuuh lebih nikmat, serasa di Starbuck.
Memiliki seorang istri jauh dari cantik tetapi mau bersyukur. Bukan berarti besok jumlah istrinya ditambahi (asyik) atau istrinya menjadi lebih cantik. Ah yang bener saja, kalau hancur ya hancur sajalah. Tetapi mungkin besok istri akan tampak sedikit lebih cantik jika telaten melihatnya. Atau tambah baik, tambah perhatian dan tambahan-tambahan lain yang akan terasa jauuuh lebih menyenangkan.
Sebenarnya, apakah syukur itu? Syukur itu mau menerima semua pemberian apa adanya, berterima kasih terhadap apapun yang diterima. Tidak ada komplain, tidak ada keluhan. Pasrah, sumeleh, nrimo ing pandum. Nah, inilah ilmu tua tersebut. Setidaknya di etnis Jawa, hal ini bukan hal baru. Etnis ini sangat mengerti dan sangat lekat dengan kegiatan bersyukur. Bahkan mereka memiliki ritual khas yaitu syukuran atau karena asimilasi agamis menjadi tasyakuran. Syukur katanya berteman dekat dengan untung, slamet, sabar, legowo, mulyo dan lain-lain. Makanya istilah-istilah ini banyak dipakai untuk nama orang. Kita tidak pernah mendengar ada orang (Jawa) diberi nama “ruwet, ciloko, apes atau kata-kata buruk lainnya”.
Contoh bagaimana leluhur menyikapi suatu kecelakaan motor. Motornya rusak parah. Tapi masih untung orangnya tidak apa-apa. Orangnya lecet-lecet tapi masih untung nggak patah tulang. Orangnya patah tulang tangan masih slamet nggak patah tulang leher. Sudah patah leher masih syukur bisa diselamatkan dan nggak sampai mati. Nah, khan. Bahkan pada kondisi terburuk pun, nenek moyang kita tahu bagaimana harus bersikap. Bersyukur sampai pada kondisi terparah yang dialami.
Makanya, teman-teman yang sekarang bermukim atau terdampar di daerah Ngayogyokarto Hadiningrat dan sekitarnya seharusnya lebih bisa menerapkan konsep ini karena mereka berada dekat dengan “sumbernya”.Yang menikah dengan warga asli bahkan bisa dikatakan “sehari-hari bahkan sudah tidur dengan sumbernya”. Seharusnya lebih cepat ketularan mudah bersyukur karena proses perkawinan ini telah menjadikan banyaknya acara “tukar-menukar” atau sharing banyak hal. Ya sharing hormon, enzim dan cara pandang.
Bersyukur seharusnya mudah. Tinggal mau menerima segala sesuatu apa adanya. Dapat rejeki sedikit disyukuri. Istri wajahnya pas-pasan, meskipun sedikit mual, ya “dinikmati saja”. Harus lega dan lapang dada. Lega itu perasaan dan perasaan itu ada di hati (kalbu). Makanya diistilahkan lapang dada karena hati dalam hal ini secara anatomi dilokasikan di daerah dada. Coba kalau di area lain, mungkin istilahnya menjadi lapang kaki atau bahkan lapang pantat. Hati yang harus dikelola, dimanajemeni.
Jika masih terasa sulit menerima apa adanya atau susah untuk sekedar bersyukur mungkin bisa dicoba dengan mengurangi keluhan, bahkan bisa sampai tahapan nol keluhan. “Yah, cuma dapat duit segini” atau “aduh, macet”. Masih untung kan dikasih duit atau mobil nggak mogok di kemacetan. Mengeluh artinya tidak sabar, masih “kemrungsung” (wis ojo diplesetno maneh), masih tidak ikhlas. Mengeluh berarti tidak mau mensyukuri. Masih saja “kurang”. Lalu bagaimana akan “ditambah” kalau tidak mau bersyukur. Kalau tidak mengeluh pun masih susah, introspeksilah, istighfar yang banyak.
Begitulah, membahas “syukur” bisa panjang lebar. Tapi saya mau bikin segelas kopi dan diminum sambil disyukuri. Siapa tahu, besok ada yang ngajak nongkrong di Starbuck.
Gatut,
I told you everything loud and clear - Linkin Park
Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)
