Latest news
Kesimbangan suami istri
Senin, 16 Februari 2009
Salah satu hukum yang berlaku di kehidupan adalah hukum kesimbangan. Burung terbang membentangkan sayapnya berdasarkan keseimbangan. Bumi berputar pada poros mayanya berdasarkan kesimbangan. Bahkan seluruh ciptaan-Nya yang diberi istilah alam semesta berjalan dengan hukum kesimbangan.
Hukum keseimbangan didasari pada semua komponen yang bekerja sebagaimana mestinya. Misal jika sebuah mobil, roda depan berputar sementara roda belakang berhenti maka kesimbangan tidak tercapai. Atau contoh ekstrem yang ditakuti laki-laki dan berdampak pada wanita, masalah impotensi. Karena “satu komponen” tidak berfungsi maka keseimbangan tidak tercapai. Kasim, pelayan yang dikebiri akhirnya memiliki penyimpangan kehidupan seksual dan mempunyai ambisi kekuasaan yang berlebihan. Nggak imbang.
Demikian juga dengan kehidupan suami istri.. Keseimbangan sangat diperlukan. Kalau salah satu jauh lebih tinggi dari yang lain, mesti orang bilang “wah butuh dingklik”. Keseimbangan bisa dalam bentuk :
1. Pendidikan. Jika salah satu memiliki gelar S1 maka yang lain sebaiknya juga demikian, atau setidaknya hanya setingkat di bawahnya. Biar bisa nyambung. Jika yang satu ngomong masalah kebijakan harga BBM, maka akan jadi nggak seimbang jika yang lain berpikir masalah kompor di dapur. Makanya sampai ada persyaratan, istri lulusan Akabri minimal harus sarjana, dan masih banyak contoh lain.
2. Status sosial. Jika seorang jadi pimpinan maka pendampingnya harus bisa mengimbangi, setidaknya bisa berperilaku layaknya seorang pendamping pimpinan. Kalau seseorang mendatangi suatu acara resmi dengan pakaian necis, maka nggak pada tempatnya jika pasangannya pakai sandal jepit.
3. Pengetahuan. Setidaknya kalau ngobrol biar bisa klop. Coba bayangkan jika kita sudah ngomong panjang lebar, pasangan cuma buka mulut, “dlongop” dan berkata “hah?”. Atau pada masalah mendidik anak, benar-benar jadi maslaah jika yang satu pakai metode masa kini sementara yang lain masih sambil bawa sapu lidi.
4. Hobi, sifat dan masih banyak lagi.
Makanya para leluhur mengatakan kalau cari jodoh harus dilihat bibit, bobot dan bebetnya. Sepertinya hal ini disalah pahami sebagai bentuk pemilihan berdasarkan materi semata, padahal hal ini menjadi konsep yang tinggi dalam seleksi. Pasangan dianggap “jodoh” jika ada kemiripan di wajah. Ini adalah sebuah bahasa simbolik nenek moyang. Setidaknya harus memiliki banyak kesamaan. Makanya kalau “bubaran” ada ungkapan “we have nothing in common”.
Kita memang tidak bisa berharap agar setiap pasangan memiliki semua persamaan yang ada. Tetapi perbedaan yang disadari sekalipun bisa memicu terjadinya masalah. Jika pasangan terlalu pendiam meskipun yang lain sangat menyadari hal itu, hal ini akan menjadi sebuah kerawanan karena dapat memicu yang lain untuk mencari “lawan bicara yang seimbang” di dunia luar. Sementara “lawan bicara yang seimbang” adalah nominator “lawan tanding” untuk babak-babak selanjutnya.
Komunikasi itu dua arah (mestinya begitu kan, Etik). Setidaknya, jika terdapat sebuah perbedaan maka satu sama lain harus mendekat, agar kesenjangan tidak terlalu lebar lagi. Kalau yang satu bersikukuh pada posisinya maka tinggal tunggu waktu terjadinya proses “melarikan diri”.
Proses “mendekatkan diri” pada suatu perbedaan dapat dilakukan dengan toleransi. Misal yang satu suka mendengarkan musik yang keras. Dia harus mau mengurangi volume karena pasangannya tidak suka suara ribut. Tetapi yang lain harus mulai menolerir “yah, kalau suara segitu, nggak apa-apa lah”.
Proses penting yang lain adalah komunikasi langsung, berbicara satu sama lain. Ngobrol antar pasangan menjadi hal penting meski terlihat sepele. Sex memang vital, tapi itu kan cuma butuh beberapa menit (memang ada yang sampai jam-jaman, berhari-hari?). Sisa waktu sekian banyak dalam sehari kan kebanyakan digunakan untuk ngomong. Komunikasi.
Bagaimana kesimbangan anda dengan pasangan? Dicek lagi. Ambil timbangan badan dan meteran.
Gatut,
Andai engkau jadi bunga .... (siapa ya yang menyanyikan?)
Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)
