Latest news

Insya Allah kita akan mengadakan Reuni Akbar di tahun 2009. Jangan sampai ketinggalan acara yg akan HEBOH itu dg mendaftar pada : Dora 085214812345, Etty 081321298399, Wiwied 081227371071 dan Faiz 081231179505.

Wanita karir

Senin, 16 Februari 2009

Perubahan jaman, tuntutan ekonomi atau karena jasa seorang Kartini (meskipun versi sejarah lain mungkin berbeda), menjadikan wanita (istri) yang bekerja menjadi hal yang lumrah. Tetapi polemik seringkali muncul karena masalah kodrati dan tanggung jawab mengelola urusan rumah tangga sehari-hari. Sementara, karir seringkali tidak bisa berjalan bersamaan dengan kesuksesan rumah tangga. Salah satu harus mengalah dan menjadi korban.

Tetapi, seorang istri yang bekerja juga berhubungan dengan tingginya tingkat pendidikan dan tanggung jawab moral untuk mengaplikasikan ilmunya. Belum lagi alasan sederhana, daripada nggangur yang berakhir dengan pembentukan klub gosip. Apapun alasannya, yang jelas jaman sekarang, wanita bekerja. Titik. Yang justru menarik adalah sikap para pria (suami).

Reaksi negatif suami dapat berupa perasaan tidak “nyaman” jika istrinya bekerja. Hal ini mungkin disebabkan karena :

1. Pergaulan istri menjadi lebih luas.

Dalam hal ini akan terjadi kekawatiran karena isteri bekerja berarti “pemandangan”  yang lebih luas. Kontrol terhadap pergaulan atau posisi dianggap sulit sehingga menimbulkan perasaan curiga dan posesif.

2. Kemungkinan posisi kerja istri menjadi lebih baik.

Jabatan yang lebih tinggi atau karir istri yang lebih pesat akan melukai “harga diri” suami. Ketidakseimbangan akan terjadi. Si suami cuma kopral tapi istrinya sudah jenderal. Penghasilan istri juga menjadi lebih tinggi, sehingga runtuhlah posisi suami sebagai “pemberi nafkah lahir”.

3. Kemungkinan terbengkalainya urusan rumah tangga.

Misal pengasuhan anak menjadi terganggu sehingga muncul ketakutan anak-anak akan menjadi “anak pembantu, anak kaleng susu, atau anak sapi”

4. Kurangnya waktu untuk suami.

Bagaimanapun seorang suami butuh teman bicara, orang terdekat untuk berbagi cerita dan kesombongan.. Istri yang bekerja dianggap tidak dapat memberikan cukup waktu. Bahkan jika mau “private meeting” mungkin perlu janjian dulu, atau mengajukan surat permohonan. Ma, besok malam kita ..........ya?

Ketidak nyamanan suami akan berbuntut pada bentuk-bentuk pengekangan karena perasaan tidak aman seringkali ditunjukkan dalam bentuk “penyerangan”. Padahal jika dilihat point-point di atas, sebenarnya masalahnya ada pada siapa?. Lebih parah lagi jika sikap yang diambil adalah bentuk “kejahatan verbal”.

Maka dari itu, perlu penyeimbangan, perlu kompromi. Seorang istri bisa saja bekerja paruh waktu atau jenis pekerjaan yang waktunya fleksibel. Memang akan ada persyaratan, “Kau boleh bekerja, asal ..... tetapi hal ini masih lebih baik daripada pengekangan atau reaksi lain yang berlebihan. Misalnya istrinya sudah berpenghasilan, jadi suami merasa tidak perlu lagi memberikan “uang belanja”. Embargo ekonomi ini dimaksudkan agar istri mengalami “kesulitan finansial” sehingga berbalik kembali ke kodratinya. Percayalah, hal seperti ini ada dan terjadi. Kehidupan suami istri akan menjadi pertempuran yang melelahkan.

Status istri yang tidak bekerja (ibu rumah tangga), menjadi perdebatan berabad-abad sampai akhirnya diambil kesimpulan bahwa ibu rumah tangga adalah “karir tersulit di dunia”. Mayoritas suami merasa lebih “aman” jika istrinya berstatus seperti ini. Padahal karir tersulit ini bukan aktivitas mudah dan seharusnya memerlukan kerja tim. 

Istri yang bekerja pun, melelahkan dan butuh energi ekstra. Misalnya, istri yang jualan rujak “siang ngulek, malam diulek. Yang jadi guru “siang ngajar, malam dihajar”. Yang jadi dokter “siang nyuntik, malam disuntik”. Yang jadi supir “siang mengendarai, malam ...........”. Teruskan sendiri deh.

Terlepas dari segala sesuatunya, hal ini mungkin hanya sebuah perspektif dari satu sisi. Sisi yang mungkin disebut orang sebagai feminis. Juga tidak bisa digeneralisir. Bagaimanapun suatu hal harus dipandang dari banyak sudut agar apa yang diamati menjadi jelas dan lengkap.

Gatut,

I did'nt mean to hurt you - Marshall Matthew

 

Tulisan cak Gatut (dikutip dari milist alumni89)

Diposting oleh Faiz di 12.56  
0 komentar

Posting Komentar