Latest news
Poligami
Selasa, 27 Januari 2009
Kata yang mengundang senyum manis para pria dan senyum masam para wanita. Tapi toh sejarah ke sejarah banyak mencatat kisahnya. Kaisar, raja, bangsawan, tuan tanah dll sering identik dengan pola seperti ini. Istana, harem, keputren atau apapun istilahnya. Bahkan ada cerita seorang kepala suku dengan 40 pengawal pribadi laki-laki yang semuanya adalah anak sulungnya. Wuih, betul-betul pasukan khusus!
Biar bagaimanapun, poligami merupakan topik menarik. Simak sapaan akrab teman-teman yang lama nggak ketemu. “Istrinya sudah berapa?”. Atau jika di suatu forum diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri maka biasanya “Nama saya X, istri baru satu”. Bagi laki-laki kayaknya hal ini menjadi cita-cita yang digantung setinggi langit.
Dari banyak kejadian dan peristiwa, sepertinya penyebab umum laki-laki melakukan poligami adalah sebagai berikut :
1. Memberikan “perlindungan” bagi yang membutuhkan, misal yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad.
2. Keberuntungan dalam mencari nafkah. Biasanya hal ini memicu keinginan untuk membuka “kantor cabang” dengan tetap mempertahankan “kantor pusat”.
3. Ketidak hadiran anak-laki-laki. Biasanya istri yang hanya “memberi”anak-anak perempuan akan diduakan dalam upaya membuka “pabrik”baru. Padahal alasan seperti ini, lemah jika ditinjau dari sisi medis. Secara genetis, laki-laki adalah pembawa sifat (kromosom XY), jadi yang menentukan jenis bibitnya. Wanita lebih berfungsi sebagai “kebun bibit” untuk menyemaikan., sehingga hanya bisa pasrah menerima apaun jenis bibitnya. So, kalau ada yang hanya punya anak perempuan, maka ketidak hadiran anak laki-laki bukanlah kesalahan istri. Ungkapan “kamu nggak bisa ngasih aku anak laki-laki” adalah satu ungkapan bodoh. Toh, untuk apa terperangkap dengan keinginan ini, jika nggak punya kerajaan untuk diwariskan, tidak punya gelar untuk diturunkan atau punya nama besar yang bisa digariskan. Toh, pada hakekatnya itu juga nggak penting. Cukup disadari bahwa, mungkin kita hanya dipercaya untuk dititipi anak perempuan. Atau anggap saja anak-anak perempuan merupakan “rem” bagi kelakukan bapaknya (he 3x).
Note : Halo Sisil dengan 3 anak perempuan. Seorang yang cukup alim pernah mengatakan bahwa jika bisa menjaga 3 anak perempuan tetap suci sampai pernikahannya, maka tiket surga sudah di tangan. Nah khan, ketidak hadiran anak laki-laki bisa disyukuri, setidaknya tidak perlu inden atau antri tiket, sudah punya free pass-nya.
4. Kemauan (hak) laki-laki. Karena merasa sudah diperintahkan untuk mengawini 2, 3, 4 atau bahan ada yang menafsirkannya sebagai jumlahnya.
5. Menghindari “jajan”. Karena membutuhkan “penyaluran” maka dianggap memerlukan “saluran-saluran” baru. Sehingga jika yang satu mampet, yang lain masih bisa dialiri. Agar higienitas dan keabsahan tetap terjaga maka harus dilakukan secara yuridis formal. Nah, lo bahasanya.
6. Kemampuan laki-laki (maaf) di atas ranjang, sifat, kepribadian dan yang sejenis.. No comment.
Apapun alasan yang tersedia di atas, ada satu teori yang menarik. Poligami awalnya merupakan konsep untuk “membagi cinta”. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecintaan yang terlalu berlebihan pada satu orang sehingga dianggap menduakan Yang Tunggal. Sehingga, seorang istri yang merelakan suaminya meniti jalan “pembagian cinta” akan mendapatkan nilai yang tinggi, karena memang berat untuk dilakukan. Ya?
Kodrati atau hanya sekedar fakta memang begitulah adanya. Jumlah wanita masih jauh lebih banyak, sehingga “jatah” untuk laki-laki masih terbuka lebar. Poliandri nggak boleh, di pelajaran SMA dulu katanya karena akan susah menentukan siapa bapaknya. Tapi dengan kemajuan teknologi DNA, alasan ini menjadi gugur. Kayaknya alasan kodrat lebih bisa diterima.
Tentang saya sendiri, ijin sejak awal sudah diberikan. Tapi nggak pernah saya pakai, soalnya satu aja nggak habis-habis. He 3x
Gatut,
Cinta ini memang untuk dirimu ... dan untuk dirinya - Pinkan Mambo
