Latest news
Cemburu
Selasa, 27 Januari 2009
Dalam kehidupan berpasangan (menikah), rasa cemburu merupakan suatu bentuk kewajaran yang tidak bisa dihindari. Karena bagaimanapun, di luar sana masih banyak “pemandangan” yang menyenangkan. Manusiawi dan wajar. Tetapi hal ini tidak lagi manusiawi dan menjadi tidak wajar jika dilakukan secara berlebihan.
Tiap orang bereaksi secara berbeda terhadap hal ini. Secara umum dikatakan wanita lebih ekspresif dalam pengungkapannya. Bisa dimengerti karena perasaan menjadi hal yang dominan. Perasaan ini muncul sebagai bentuk tindakan kewaspadaan, kecurigaan dan reaksi dari pembacaan “tanda-tanda” di sekitar. Tindakan yang mungkin dilakukan :
1. Kontrol. Biasanya dilakukan dengan kontrol terhadap posisi dan kondisi pasangan. Sehingga ada jadual seperti di salah satu iklan komersial “Dimana ? Lagi ngapain ? Sama siapa?”. Padahal jika “kecurigaan” ini tidak berdasar maka yang dikontrol menjadi risi di hadapan teman-temannya. Eh, harus lapor komandan.
2. Pembatasan ruang gerak. Dilakukan dengan berbagai cara, misal dengan membatasi uang saku, asal cukup pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Biar nggak bisa untuk sewa losmen atau hotel (ups!). Padahal, si pasangan akan menjadi bersiasat. Simpan uang lebih di bawah jok, kotak alat, bahkan jadi rajin nabung.
3. Pengeledahan. Lihat hp-nya ada sms mencurigakan nggak, lihat dompetnya, bau bajunya. Padahal semua sms terkait sudah dihapus, dompet sudah disterilkan dan bau baju sudah dinetralisir.
4. Macem-macem deh pokoknya.
Kontrol, pembatasan atau tindakan apapun umumnya berujung pada pengekangan gerak. Hewan peliharaan jika dijerat tali yang pendek akan berontak. Jika dibiarkan lepas maka dia akan lari. Mending dilepas saja, dengan diberi pagar secukupnya agar merasakan cukup kebebasan. Pengekangan berlebihan nanti akan berhadapan dengan Naif “posesif”.
Tindakan-tindakan seperti ini cuma akan menjadi bentuk penyiksaan diri. Yang menjadi dasar adalah ketidak mauan “berbagi”. Cinta, kasih sayang diharapkan didapat utuh 100%. Kawatirnya, jika berbagi jadi separuhnya. Padahal, cinta dan kasih sayang merupakan produk yang tidak akan kering sumbernya. Kalau mencintai, mengasihi atau menyayangi seseorang di masa lalu, rasa itu akan tetap ada, akan muncul lagi, tinggal menunggu pemicunya.
Selingkuh pada dasarnya adalah bentuk kecurangan, dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu kalau pengin dengan “yang lain” mending ketahuan saja, jadi sudah nggak bisa dibilang selingkuh (he 3x).. Belum lagi ada perselingkuhan bentuk lain, misal selingkuh dengan pekerjaan, dengan mancing, dengan file atau hal-hal lain yang nggak punya jenis kelamin.
Jadi biar saja, karena jika kemauan sudah kuat maka berbagai siasat dan akal akan dilakukan. Daripada menyiksa diri, mending direlakan. Kalau toh “peliharaan” itu lepas maka yang perlu dilakukan adalah menyatakan bahwa “yang rugi dia, bukan saya. Kalau sampai pulang, nggak akan saya kasih makan”. Simple.
Tentang saya, ah kayaknya nggak usah tahu deh.
Gatut,
Mungkin aku patut..membenci dia - Tere
