Latest news
It was not the White Nights
Senin, 11 Agustus 2008
Pertama kali nya terbang pulang ke Indonesia dari LA lewat Tokyo. Jam keberangkatan adalah 12.50 waktu LA pada tanggal 5/8, waktu tempuh diperkirakan 11jam 20menit. Berarti akan tiba untuk transit sekitar pukul 00.10 waktu LA atau pukul 16.10 di Tokyo pada tanggal 6/8. Sepanjang penerbangan ini saya hampir tidak pernah tidur (ngiler doang) karena sudah tidak tahan lagi makan masakan tanpa rempah-rempah, sambil menikmati cabin entertainment dan sesekali lihat-lihat keluar jendela.
Ketika take off, coba-coba saya hitung dan perkirakan waktu dzuhur sekitar pukul 13.30 waktu LA, dengan sangat yakin bahwa saat itu berada diatas pasific. Jadi saya lakukan dzuhur dengan duduk plus meng-qashor ashar. Setelah itu duduk tenang sambil lihat-lihat ke jendela kalau-kalau matahari mulai terbenam untuk melakukan maghrib dan isya.
Beberapa jam menunggu, matahari masih juga bersinar, saya coba lihat informasi status penerbangan, dan ... o..o.. waktu di Tokyo menunjukkan pukul 11.00, yang artinya saat itu adalah pagi hari sementara masih juga di atas pasific atau bering. Praktis ... saat itu saya tidak mengalami saat maghrib, isya, dan subuh di penerbangan ini, karena beberapa saat kemudian adalah waktu dzuhur kembali.
Saya jadi teringat satu judul film, the White Nights (lagu thema nya Separate Lives by Phil Collins), yang ceritanya dibuat di Rusia pada saat musim dingin, dimana saat itu mereka tidak mengalami malam karena matahari terus bersinar dari pagi ke siang dan pagi lagi. Dan bagi saya ini adalah pengalaman pertama yang sangat luar biasa yang telah dianugrahkan untuk saya.
Sepertinya saya harus cari referensi untuk menemukan saat maghrib, isya, dan subuh pada situasi seperti itu, karena yang saya alami bukanlah White Nights, tapi betul-betul Daylight.
Kiriman dari cak Dzul
