Latest news
Lantai Ruang Tamu
Rabu, 03 Desember 2008
Seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak laki-laki dan seorang perempuan dengan setia mengurus keluarganya, termasuk sang suami. Urusan belanja, cuci, makanan, kebersihan dan kerapian rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapi, bersih dan teratur. Suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yang luar biasa ini sangat tidak suka apabila lantai ruang tamunya kotor. Ia bisa marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas lantai ruang tamu tersebut dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, hidup dengan suami dan 3 anak, hal ini mudah sekali terjadi.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog ternama di kota itu. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, sang psikolog tersenyum dan berkata kepada sang ibu: "Harap tutup mata Ibu, dan bayangkan apa yang akan saya katakan,"
Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah Ibu yang rapi dan lantai ruang tamu Ibu yang bersih tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan Ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, wajahnya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Lanjut psikolog, "Itu artinya tidak ada seorang pun di rumah Ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah itu sepi tanpa orang-orang yang ibu kasihi. Mungkin mereka sudah meninggal atau pergi meninggalkan ibu dan tak mau kembali lagi"
Seketika wajah ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya sesak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
"Sekarang lihat kembali lantai ruang tamu itu. Ibu melihat jejak sepatu dan sisa makanan serta mainan berserakan di sana. Artinya suami dan anak-anak Ibu ada di rumah. Orang-orang yang Ibu cintai ada bersama Ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu."
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.
"Sekarang bukalah mata Ibu. Bagaimana, apakah lantai yang kotor itu masih menjadi masalah buat Ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Saya tahu maksud Anda," ujar sang Ibu. "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif."
Sejak saat itu, sang Ibu tak pernah lagi mengeluh soal lantai ruang tamunya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu di sana, ia lega, karena itu artinya keluarga yang dikasihinya ada di rumah.
*******************
Kisah di atas setidaknya membuka mata hati dan sudut pandang kita tentang bagaimana kita "membingkai ulang" sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif.
Mari kita ubah sudut pandang kita atas segala sesuatu yang kurang kita senangi bisa berubah menjadi mensyukurinya.
Mari kita BERSYUKUR atas :
1. Istri, yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instant, karena itu artinya ia bersama kita,.
2. Suami, yang ketika malam hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah.
3. Anak-anak, yang selalu ribut tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak keluyuran menjadi anak jalanan.
4. Potongan pajak, karena itu artinya kita masih bekerja dan punya penghasilan.
5. Sampah dan kotoran bekas pesta yang harus dibersihkan, karena itu artinya keluarga kita dikelilingi banyak teman.
6. Pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya kita makan makanan yang bergizi.
7. Rasa lelah, karena itu artinya kita masih mampu bekerja keras.
8. Bunyi alarm keras wktu pagi, karena itu artinya kita masih bisa terbangun, masih hidup.
9. Keluh kesah dan permintaan tolong dari teman-teman, karena itu artinya kita masih dianggap teman
Kiriman dari jeng Lina
